Hukum Menshalati Jenazah yang Mati Karena Bunuh Diri

Bagaimana nasib jenazah seorang muslim yang mati akibat bunuh diri, apakah dishalati atau tidak?
Bunuh diri termasuk dosa besar. Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-Kabaair menyebutkan “bunuh diri” sebagai salah satu dosa besar. Adz-Dzahabi di antaranya menyebutkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Dalam Al-Qur’an, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan Barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisa’: 29-30).
Jundub bin Abdullah mengatakan bahwa Nabi Saw bersabda, “Dahulu, pada umat sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang terluka. Ia tidak sabar lalu ia mengambil pisau dan ia potong sendiri tangannya. Belum lagi darahnya kering, orang itu pun meninggal dunia. Lalu Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku telah mendahului Aku dengan nyawanya, maka Aku haramkan baginya surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa membunuh dirinya dengan benda tajam, maka nanti di Jahannam benda itu akan ditusuk-tusukkannya ke perutnya dan ia kekal di dalamnya. Barangsiapa membunuh dirinya dengan racun, maka nanti di Jahannam ia akan memegang racun itu dengan tangannya lalu menghirupnya dan ia kekal di dalamnya. Barangsiapa membunuh dirinya dengan terjun dari puncak gunung, maka nanti ia akan terjun ke dalam neraka Jahannam dan ia kekal di dalamnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Adapun terkait dengan jenazahnya, menurut jumhur ulama, mereka tetap dishalati. Nawawi berkata, “Menurut Al-Qadhi, pendapat para ulama secara umum adalah setiap muslim tetap dishalati, baik yang menjalani hukuman, yang dirajam, yang bunuh diri, dan anak zina. Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Saw tidak melakukan shalat terhadap orang yang menggelapkan harta rampasan dan orang yang bunuh diri, maka bisa jadi sebagai ancaman dan efek jera terhadap perbuatan ini, sebagaimana beliau juga enggan menshalati orang yang masih punya utang, tetapi beliau menyuruh para sahabat untuk menshalatinya.” (Sayyid Sabiq, Fiqih Sunah, Jilid 2: hlm. 72).
Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim dalam Fiqhus Sunnah Lin Nisa’ (hlm. 319) menyatakan, “Orang yang membunuh dirinya sendiri dihukumi sebagai orang Islam secara lahiriyah—menurut yang paling shahih dari dua pendapat ulama—sehingga tidak mengapa dishalatkan. Akan tetapi jika para imam dan orang-orang utama yang dijadikan contoh teladan itu tidak ikut menshalatkannya, sebagai bentuk hardikan terhadap orang-orang yang semisal dengan orang yang mati bunuh diri, maka itu baik. Ini sebagaimana Nabi Saw yang tidak mau menshalatkan orang yang mati bunuh diri, lalu beliau bersabda kepada para sahabatnya, ‘Kalian shalatkan dia!’. Inilah pendapat yang dinyatakan oleh Malik, Ahmad, dan para imam lainnya.”
Lebih jauh Abu Malik Kamal menyatakan, orang lainnya yang termasuk dalam cakupan hukum ini adalah para pemaksiat, orang yang melakukan dosa besar, serta pelaku bid’ah yang tidak kafir dengan bid’ah mereka, wallahu a’lam.* (Kang Asti, www.perspektifislam.com).

 

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *