Mengkonsumsi Daging Biawak, Halal atau Haram?

Bagaimana hukum mengkonsumsi daging biawak, halal atau haram? Karena ada seorang ustadz yang saya tanya menjawab halalnya daging biawak, bagaimana sebenarnya? Mohon penjelasan. 

Seiring perkembangan zaman, dunia kuliner juga berkembang pesat. Banyak ragam kuliner yang ditawarkan, di antaranya menu yang diolah dari daging biawak. Daging biawak bisa diolah menjadi berbagai menu masakan seperti sate, sup, dan rica-rica. Namun bagaimana sebenarnya status hukum daging biawak, halalkah atau haram?

Banyak yang berpendapat akan halalnya daging biawak. Dalil yang menjadi landasan mereka yang menghalalkan biawak umumnya bersandar pada sejumlah riwayat hadits yang menyatakan kehalalan binatang dhabb. Di antaranya, dari Ibnu Abbas ra berkata,

أُكِلَ الضَّبُّ عَلَى مَا ئِدَةِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم

Dhabb pernah dimakan (oleh para sahabat) dalam hidangan Rasulullah Saw.” (Muttafaq Alaih). (Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Bulughul Maram: hlm. 359). Menurut Imam Ash-Shan’ani dalam Subulus Salam Syarah Bulughul Maram (hlm. 536-537), hadits ini menjadi dalil yang membolehkan memakan dhabb dan inilah pendapat mayoritas ulama.

Hanya saja yang menjadi pertanyaan, benarkah yang dimaksud dhabb dalam hadits tersebut adalah biawak? Karena sejumlah buku terjemahan dari Bahasa Arab yang beredar di Indonesia kebanyakan memang secara simplistis menerjemahkan kata dhabb dengan biawak. Sehingga yang terjadi kemudian, riwayat hadits tentang dhabb dijadikan dalil kehalalan mengonsumsi daging biawak.

Padahal sejumlah literatur menyebutkan bahwa biawak yang kita jumpai di Indonesia dan dhabb berbeda. Tentang Dhabb, situs Wikipedia menulis, Dhab (Uromastyx aegyptia) adalah sejenis biawak yang terdapat di padang pasir dan sebagai salah satu anggota terbesar dari genus Uromastyx. Dhab dapat di temui di Mesir, Libya, dan seluruh daerah Timur Tengah tetapi sangat jarang ditemui saat kini karena penurunan habitatnya.

Dhab tergolong dalam keluarga kadal dan termasuk hewan herbivora. Ia menghabiskan banyak waktunya dalam lubang yang digalinya untuk menyembunyikan dirinya atau dicelah batuan yang aman untuk berlindung. Panjang seekor dhab lebih kurang 14 inci sampai dengan 36 inci.

Sebagai sejenis biawak, dhab merupakan hewan reptilia yang berdarah dingin, dan berkembang biak dengan cara bertelur, dan mempunyai kulit bersisik tebal. Mereka hidup di daerah kering dan berbatu. Ia mampu bertahan dengan lingkungan habitatnya yang panas dan kering tanpa meminum air.

Adapun biawak, situs Wikipedia menulis, Biawak adalah sebangsa reptil yang masuk ke dalam golongan kadal besar, suku biawak-biawakan (Varanidae). Biawak dalam bahasa lain disebut sebagai bayawak (Sunda), menyawak atau nyambik (Jawa), berekai (Madura), dan monitor lizard atau goanna (Inggris).

Biawak banyak macamnya. Yang terbesar dan terkenal ialah biawak komodo (Varanus komodoensis), yang panjangnya dapat melebihi 3 m. Biawak ini, karena besarnya, dapat memburu rusa, babi hutan, dan anak kerbau. Bahkan ada kasus-kasus di mana biawak komodo menyerang manusia, meskipun jarang. Biawak ini hanya menyebar terbatas di beberapa pulau kecil di Nusa Tenggara, seperti di p. Komodo, p. Padar, p. Rinca dan di ujung barat p. Flores.

Biawak yang kerap ditemui di desa-desa dan perkotaan di Indonesia barat kebanyakan adalah biawak air dari jenis Varanus salvator. Panjang tubuhnya (moncong hingga ujung ekor) umumnya hanya sekitar 1 m lebih sedikit, meskipun ada pula yang dapat mencapai 2,5 m.

Biawak umumnya menghuni tepi-tepi sungai atau saluran air, tepian danau, pantai, dan rawa-rawa termasuk rawa bakau. Di perkotaan, biawak kerap pula ditemukan hidup di gorong-gorong saluran air yang bermuara ke sungai.

Biawak memangsa aneka serangga, ketam atau yuyu, berbagai jenis kodok, ikan, kadal, burung, serta mamalia kecil seperti tikus dan cecurut. Biawak pandai memanjat pohon. Di hutan bakau, biawak kerap mencuri telur atau memangsa anak burung. Biawak juga memakan bangkai, telur kura-kura, penyu, dan buaya.

Abu Shofiyah Aqil Azizi dalam artikelnya “Dhabb, Binatang Reptil yang Sering Disebut-sebut dalam Hadits” ((www.almadinahpekanbaru.wordpress.com) menyatakan, pernah ditanyakan kepada Syaikh Shalih Abdul Aziz Al-Ghusn (hafizhahullah) tentang seperti apa itu dhabb, maka beliau menjawab bahwa dhabb adalah hewan barr (padang pasir) yang berjalan di atas perutnya. Kemudian ditanyakan lagi tentang apakah dhabb bertaring, maka beliau menjawab bahwa dhabb tidak bertaring, hewan ini memakan rerumputan dan tidak meminum air, dan sebagian orang memakan dagingnya.

Adapun biawak (atau di daerah saya di Grobogan, Jawa Tengah, disebut seliro) termasuk binatang buas dan termasuk hewan karnivora. Karena itu, banyak yang berpendapat antara biawak dan dhabb adalah jenis hewan yang berbeda sekaligus berbeda pula status hukum halal-haram dalam mengkonsumsi dagingnya. Daging dhabb boleh dimakan sebagaimana pendapat jumhur ulama, sedangkan daging biawak haram karena biawak termasuk binatang buas yang bertaring.

Keharaman biawak sudah jelas, karena biawak termasuk binatang buas yang bertaring yang diharamkan. Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi Saw bersabda:

كُلُّ ذِي نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ

Setiap binatang buas yang mempunyai gigi taring haram dimakan.” (HR. Muslim)

Keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-7 di Bandung pada tanggal 13 Rabiust Tsani 1351 H/9 Agustus 1932 M juga menyatakan, binatang biawak (seliro-Bhs. Jawa) itu bukan binatang dhab, oleh karenanya maka haram dimakan. Keterangan, dalam kitab Al-Qulyubi ‘Alal Minhaj:Binatang dhab adalah binatang yang menyerupai biawak yang hidup sekitar tujuh ratus tahun. Binatang ini tidak minum air dan kencing satu kali dalam empat puluh hari. Betinanya mempunyai dua alat kelamin betina, dan yang jantan mempunyai dua alat kelamin jantan.” (Ahkamul Fuqaha, hlm. 119).

Kekurangtepatan dalam menerjemahkan kata Dhabb yang diterjemahkan sebagai “biawak” telah berakibat cukup fatal, yakni banyaknya kaum muslimin di Indonesia yang meyakini kehalalan daging biawak. Sedang biawak yang kita kenal di Indonesia adalah binatang buas yang bertaring yang hukumnya sudah jelas keharamannya sebagaimana dalil yang ada.

Dhabb berbeda dengan biawak. Bila kita membuka kamus, maka Biawak dalam Bahasa Arab disebut waral (الوَرَلُ), bukan dhabb (الضَّبّ)/ hewan mirip biawak atau ada yang menerjemahkannya sebagai “biawak padang pasir”. Wallahu a’lam.* (Kang Asti, www.perspektifislam.com).

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *