Dalil Pengharaman Katak

Seperti diketahui di kota kami, Purwodadi, Kabupaten Grobogan, kuliner swike yang terbuat dari olahan daging katak sudah menjadi seperti ikon daerah dan populer di mana-mana. Meski demikian, kami sebagai warga agak risih karena katanya daging katak itu hukumnya haram, walaupun saya tidak tahu dalilnya. Melalui majlis ini, mohon dijelaskan dalil kenapa katak diharamkan dalam Islam? Terima kasih.

Swike, dengan olahan daging katak, memang sudah fenomenal dan telah populer sebagai ikon kuliner khas kota Purwodadi. Tak bisa dipungkiri, memang upaya untuk mengangkat kuliner ini terkendala persoalan teologis. Secara fiqh, daging katak memang diyakini keharamannya oleh sebagian besar umat Islam di kota Purwodadi, sehingga masyarakat Kabupaten Grobogan sendiri setengah hati dengan kuliner swike berbahan daging katak.

Kabar baiknya adalah, masyarakat Grobogan kini telah mulai memperkenalkan swike dengan olahan dari daging halal seperti ayam dan mentok. Ini merupakan terobosan bagus yang layak diapresiasi. Karena swike ayam atau swike mentok ternyata tak kalah lezat dengan swike katak.

Terkait dengan dalil pengharaman daging katak, ada beberapa dalil yang dikemukakan. Ada yang menyatakan bahwa katak diharamkan karena hidup di dua alam (air dan darat), ada juga yang menyatakan karena daging katak itu khabits (buruk).

M. Masykur Khoir dalam Risalah Hayawan (hlm. 12) menyatakan, “Binatang yang hidup di darat dan di air masuk kategori binatang amfibia, seperti katak, buaya, ular, penyu, kepiting, dll. Menurut para ulama, daging dari binatang jenis amfibia kotor, oleh sebab itu hukumnya haram.”

Namun, dalil yang valid terkait pengharaman daging katak adalah karena adanya larangan membunuh katak oleh Rasulullah Saw.  “Dari Abdurrahman bin Utsman Al-Quraisyi ra bahwa ada seorang tabib bertanya kepada Rasulullah Saw tentang katak yang dijadikan obat. Lalu beliau melarang membunuhnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasa’i).

Hadits ini adalah dalil yang mengharamkan membunuh katak. Dari hadits ini dapat diambil kesimpulan bahwa haram memakan katak; karena kalau halal, tentu boleh dibunuh. (Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam Syarah Bulughul Maram: hlm. 540).

Imam Syafi’i dan pengikutnya berkata, “Sesuatu yang dilarang dibunuh, diharamkan untuk dikonsumsi. Sebab, andaikata dihalalkan, tidak dilarang untuk dibunuh. Begitu pula sesuatu yang diperintahkan untuk dibunuh, berarti haram dikonsumsi. Sebab, andaikata dihalalkan, tentulah tidak diperintahkan untuk dibunuh.” (Abdul Wahab Andussalam Thawilah, Fikih Kuliner: hlm. 29).

Haramnya katak secara mutlak merupakan pendapat Imam Ahmad dan beberapa ulama lain, serta pendapat yang shahih dari madzhab Syafi’i. (Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi, dkk, Indahnya Fiqih Praktis Makanan: hlm. 33).

Dengan demikian menjadi jelas, bahwa dalil pengharaman daging katak bukan sebab alasan binatang ini termasuk kategori binatang ampibia atau khabits (buruk), melainkan lebih karena adanya larangan membunuh katak dari Rasulullah Saw. Semoga bermanfaat. Wallahui a’lam.* (Kang Asti, www.perspektifislam.com).

 

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *