Hukum Daging Landak

Di daerah Tawangmangu, ada warung yang menjual sate landak. Bagaimana hukum daging landak? Mohon jawabannya. Terima kasih.

Perkembangan kuliner saat ini memang luar biasa. Banyak kuliner-kuliner yang bernuansa ekstrim yang ditawarkan ke konsumen. Di antaranya ya kuliner berbahan dari binatang landak ini. Menurut informasi yang saya baca, daging landak memiliki tekstur yang empuk dan kelezatannya tidak kalah dengan daging kambing maupun ayam.

Selain itu daging landak konon juga memiliki beragam khasiat untuk kesehatan. Di antaranya, daging landak dipercaya bisa untuk obat asma, obat hati, ekornya untuk peningkat vitalitas, daya tahan tubuh, dan juga dagingnya non-kolesterol. Namun, khasiat-khasiat itu bila dilacak sebenarnya sifatnya hanya tuturan dari mulut ke mulut yang berkembang di tengah masyarakat. Jadi, belum ada hasil uji laboratorium yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan yang menyatakan khasiat daging landak bagi kesehatan.

Meski demikian, sebagai seorang muslim, kita tidak boleh larut dalam hiruk pikuk perkembangan kuliner dengan mengabaikan persoalan syariat, yakni halal dan haram. Sebagai seorang muslim, halal dan haram menjadi harga mati dan wajib hukumnya menjadi bahan pertimbangan pertama dan utama saat akan mengonsumsi atau menyantap sebuah produk kuliner.

Lalu, bagaimana hukum daging landak? Dalam literatur fiqh didapatkan terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Asy-Syafi’i membolehkannya berdasarkan atsar yang diriwayatkan dari Ibnu Umar ra, bahwa beliau pernah ditanya tentang landak, lalu beliau membaca firman Allah Ta’ala:
Katakanlah: ‘Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya.’ Hingga akhir ayat.” (QS. Al-An’am: 145).

Landak juga hewan yang dianggap thayyib (baik) dan tidak menyerang dengan taringnya, sehingga dia halal untuk dimakan seperti kelinci.

Al-Hanabilah dan Al-Hanafiah mengharamkannya dengan alasan landak dianggap khabits (buruk) karena memakan hewan-hewan kecil dan serangga. Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah, bahwa landak pernah disebutkan di sisi Rasulullah saw lalu beliau bersabda, “Landak adalah termasuk binatang yang khabits.”

Hanya saja hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah dari sisi sanadnya, sehingga kita mengembalikan kepada hukum asal, yaitu hukumnya boleh sampai ada dalil yang mengeluarkan dari hukum asal ini. (Dr. Shalih bin Fauzan, Fiqih Makanan: hlm. 89).

Al-Qafi berkata, “Jika hadits tersebut—yang diriwayatkan Abu Hurairah ra shahih—maka ia haram. Jika tidak, kita kembalikan pada kebiasaan bangsa Arab. Konon, mereka menganggapnya baik (thayyib).”

As-Syaukani berkata, “Pendapat yang paling kuat adalah bahwa hukum dasarnya boleh sampai ada dalil yang mengalihkannya, atau menetapkan bahwa ia buruk (khabits).” (Abdul Wahab Abdussalam Thawilah, Fikih Kuliner: hlm.110-111).

Malik dan Abu Tsaur berpendapat bahwa landak halal dimakan karena orang menganggapnya baik, dan selain itu, hadits di atas dhaif (lemah). (Sayyid Sabiq, Fikih Sunah Jilid 3: hlm. 430). Imam Taqiyyudin Abubakar dalam kitab Kifayatul Akhyar (Jilid 2, hlm. 481) menyatakan, “Dan halal juga kijang, dhabu’ (hyena), kancil, marmut, yarbu (sejenis marmut atau jerboa), landak, marmut Rum (wabar) dan binatang ibnu ‘irs, karena semua itu dipandang baik. Walau bagaimanapun pada sebagian binatang tersebut ada khilaf (perbedaan pendapat) antara ulama.”

Semoga penjelasan di atas dapat dipahami dan menjadi jelas terkait status hukum menyantap daging landak. Wallahu a’lam.* (Kang Asti, www.perspektifislam.com).

 

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *