Hukum Menyantap Tokek Sebagai Obat

Di daerah saya, tokek dipercaya sebagai obat gatal. Sehingga banyak yang memakan tokek dengan tujuan sebagai obat. Pertanyaannya, bolehkah memakan tokek dengan tujuan sebagai obat? Terima kasih atas jawabannya.

Tokek adalah sejenis reptil yang masuk ke dalam golongan cicak besar. Berkepala besar, dengan panjang mencapai 340 mm, hampir setengahnya adalah ekornya. Sisi punggung kasar, dengan banyak bintil besar-besar. Abu-abu kebiruan sampai kecoklatan, dengan bintik-bintik berwarna merah bata sampai jingga. Perut, sisi bawah tubuh, abu-abu biru keputihan atau kekuningan. Ekor membulat, dengan enam baris bintil; berbelang-belang. Jari-jari kaki depan dan belakang dilengkapi dengan bantalan pengisap yang disebut scansor, yang terletak di sisi bawah jari. Gunanya untuk melekat pada permukaan yang licin. Maka, dari sisi atas jari-jari tokek nampak melebar.

Tokek kerap ditemui di pohon-pohon di pekarangan dan di rumah-rumah, terutama di pedesaan dan tepi hutan. Suara teritorialnya yang keras dan khas, tokke … tokkee …, menjadi dasar penyebutan namanya dalam berbagai bahasa.

Konon, binatang ini memang dipercaya bisa menjadi obat gatal. Sebuah literatur di internet menyebutkan, tokek memiliki antibodi yang sangat bermanfaat untuk menetralisir racun dalam tubuh, sehingga bisa untuk mengatasi segala jenis alergi pada kulit ataupun pernafasan, seperti asma, gatal-gatal, kudis, eksim, dan lain sebagainya. Namun, terlepas dari manfaatnya, terlebih dulu harus dikaji dalam perspektif halal dan haramnya, sebelum lebih jauh mengkaji hukum mengkonsumsi tokek sebagai obat.

Tokek oleh sementara ulama dimasukkan dalam jenis cicak. (Abdul Wahab Abdussalam Thawilah, Fikih Kuliner, hlm. 102). Sedang mayoritas ulama menilai cicak hukumnya haram dikonsumsi. Dalil pengharaman cicak adalah karena Rasulullah Saw memerintahkan untuk membunuh cicak.

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra bahwa Rasulullah Saw memerintahkan agar membunuh al-wazagh, dan beliau menyebutnya fuwaisiq (fisq kecil). (HR. Ahmad, Muslim, dan Abdulrazzaq).

Dari Ummu Syarik ra bahwa Nabi Saw memerintahkan untuk membunuh al-wazagh. Beliau menyatakan, “Dahulu al-wazagh yang meniup dan memperbesar api yang membakar Ibrahim.” (HR. Muttafaq ‘alaih).

Sedang dalam kaidahnya, semua hewan yang syariat Islam memerintahkan untuk dibunuh, maka menurut jumhur ulama semua itu diharamkan memakannya. (Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, Fiqhus Sunnah Lin Nisa’: hlm. 499).

Al-wazagh sendiri ada yang mengartikan cicak, ada yang mengartikan tokek. (M. Masykur Khoir, Risalah Hayawan: hlm. 93). Imam Nawawi berkata, bahwa menurut ahli Bahasa Arab, cicak (al-wazagh) masih satu jenis dengan tokek (saam abrash), karena tokek adalah cicak besar.

Syihabuddin Asy-Syafii dalam kitabnya, At-Tibyan limaa Yuhallal wa Yuharram min al-Hayaman mengatakan bahwa berdasarkan penjelasan di atas, hukum haramnya cicak dapat juga diterapkan pada tokek, karena cicak dan tokek dianggap satu jenis. Maka tokek pun hukumnya haram.

Dengan demikian, menjadi jelas status hukum tokek yang haram karena Rasulullah Saw memerintahkan untuk membunuhnya. Di samping pula, daging tokek diharamkan karena khabits (buruk) dan tidak baik. (Abu An’im, Rahasia Sunnnah: hlm. 171). Lalu bagaimana bila menyantapnya untuk tujuan pengobatan?

Para ulama berbeda pendapat terkait hukum pengobatan dengan menggunakan sesuatu yang haram. Sebagian ulama mengharamkan, sebagiannya lagi membolehkan. Ulama yang mengharamkan bersandar pada berbagai riwayat yang berisi larangan mengonsumsi obat dari sesuatu yang haram.

Di antaranya, dari Abu Darda’ ra bahwa Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obat. Dan Dia menjadikan untuk tiap-tiap penyakit ada obatnya. Maka, berobatlah kalian, tapi janganlah kalian berobat dari yang haram.” (HR. Abu Dawud).

‘Ali bin Sulaiman Ar-Rumaikhon menyatakan, tidak boleh berobat dengan barang haram berdasarkan dalil-dalil syariat yang menunjukkan pengharaman hal itu. (Fiqih Pengobatan Islami, hlm. 211)

Namun, dalam kondisi darurat, boleh mengonsumsi sesuatu yang haram sebagai obat dengan ketentuan: benar-benar dalam kondisi gawat bila seseorang yang sakit tidak mengkonsumsi sesuatu yang haram itu; tidak ada alternatif obat halal sebagai pengganti obat yang haram; dan atas rekomendasi dokter muslim yang memiliki kompetensi dan integritas moral dan agama. (Yusuf Qaradhawi, Halal dan Haram: hlm. 82).

Adapun ulama yang membolehkan berobat dengan sesuatu yang haram berdalil bahwa berobat merupakan hal yang bersifat darurat. Dan kedaruratan itu membolehkan hal yang hukumnya terlarang. Namun, kebolehan mengonsumsi obat haram ini tidak berlaku mutlak. Mereka yang mendukung pendapat ini mensyaratkan beberapa hal penting: Pertama; usahakan yang halal terlebih dahulu. Selama masih ada obat halal, obat haram tidak boleh digunakan, sebab unsur kedaruratannya hilang.

Kedua; tidak menikmati. Orang yang dengan terpaksa mengonsumsi makanan yang haram karena keadaan darurat pengobatan tidak boleh menikmati makanan haram itu. Kalau dinikmati, status kedaruratannya menjadi tidak ada nilainya.

Ketiga; berobat secukupnya. Terpaksa berobat dengan makanan yang haram hanya dibenarkan jika terbatas pada dosis yang telah ditoleransi dokter. Berlebihan dalam mengonsumsi yang haram karena alasan pengobatan sama saja dengan melanggar ketentuan kedaruratan itu sendiri.
Keempat; terbukti manjur secara mutlak. Obat haram yang dianggap menyembuhkan harus sudah terbukti khasiatnya. Dengan kata lain, sifatnya bukan coba-coba atau bereksperimen. (Ahmad Sarwat, Halal atau Haram: hlm. 210-211).

Merujuk pada keterangan di atas, baik dari ulama yang mengharamkan larangan berobat dengan sesuatu yang haram maupun yang membolehkan, dapat ditarik titik temu, bahwa memilih pengobatan halal didahulukan dari memilih pengobatan yang haram. Bahkan, baik ulama yang mengharamkan maupun yang membolehkan sepakat, selagi masih ada pengobatan dari sesuatu yang halal tidak boleh alias terlarang menggunakan sesuatu yang haram untuk tujuan pengobatan. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.* (Badiatul Muchlisin Asti, www.perspektifislam.com).

 

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

One Comment on “Hukum Menyantap Tokek Sebagai Obat”

Tinggalkan Balasan ke almaguna cargo Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *