Hukum Daging Kelinci

Saya penggemar sate kelinci, apakah daging kelinci halal dikonsumsi? Mohon penjelasannya.

Kelinci adalah hewan mamalia yang banyak ditemukan di berbagai belahan bumi. Di Indonesia, khususnya pulau Jawa, kelinci banyak diternakkan secara komersial oleh para peternak. Di Lembang, Bandung, misalnya, kelinci hias menjadi primadona para peternak. Kelinci yang tidak termasuk kategori hias, akan dijual sebagai kelinci pedaging, di mana Lembang juga dikenal sebagai konsumen daging kelinci yang cukup besar dengan sate kelinci sebagai komoditas utama. Selain di Lembang, sate kelinci dapat pula dijumpai di daerah Sumedang dan Kabupaten Bogor. Di kawasan wisata Air Panas Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, juga banyak dijumpai penjaja sate kelinci dari hasil peternak kelinci di perkampungan sekitar.

Bagaimana hukum daging kelinci? Halal ataukah haram?

Terdapat sebuah hadits yang menjadi dalil mengonsumsi daging kelinci. Dari Anas bin Malik ra, ia berkata, “Kami mengejar seekor kelinci di Marrizh Zhahran. Orang-orang mengejarnya hingga mereka kelelahan. Maka aku mengejarnya hingga aku mendapatkannya, lalu aku membawa kepada Abu Thalhah, lalu dia menyembelihnya dan mengirimkan kedua pahanya kepada Rasulullah Saw dan beliau menerimanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini tidak menunjukkan bahwa Nabi memakannya, akan tetapi menurut riwayat Al-Bukhari dalam kitab Hibah, perawi yang bernama Hisyam bin Ziyad bertanya kepada Anas: Apakah beliau memakannya? Ia menjawab, Nabi memakannya, lalu berkata, “Beliau menerimanya.” (Ash-Shan’ani, Subulus Salam Syarah Bulughul Maram: 529).

Pada hadits di atas terdapat faedah, di antaranya ikhwal halalnya daging kelinci. Umat telah sepakat atas hal ini; karena kelinci termasuk binatang yang baik-baik. (Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Syarah Umadatul Ahkam: hlm. 944).

Terdapat hadits-hadits lainnya yang dapat dijadikan sebagai dalil atas kehalalan daging kelinci. Dari Jabir ra bahwa seorang bocah menangkap kelinci, lalu menyembelihnya dengan marwah (batu yang sangat tajam, yang jika kita tergores olehnya bisa berdarah). Ia pun bertanya kepada Rasulullah Saw tentang (hukum) memakannya. Rasulullah Saw pun menyuruhnya untuk memakannya. (HR. Al-Baihaqi).

Dari Muhammad bin Shaifi, ia berkata, “Aku membawa dua ekor kelinci yang sudah kusembelih dengan marwah kepada Rasulullah Saw. Beliau pun menyuruhku memakannya.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan Ibnu Abi Syaibah).

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, “Seseorang Arab pedalaman datang menemui Rasulullah Saw dengan membawa seekor kelinci yang telah dipanggang beserta bumbunya, dan meletakkannya di hadapan Rasulullah Saw. Beliau diam dan tidak memakannya, kemudian beliau menyuruh para sahabatnya untuk memakannya.” (HR. Ahmad dan An-Nasai).

Teks-teks dalil ini menunjukkan bahwa daging kelinci halal dan boleh dimakan. Rasulullah Saw sendiri pernah memakannya. Bahklan beliau menyuruh para sahabatnya untuk memakannya. (Abdul Wahab Abdussalam Thawilah, Fikih Kuliner: hlm. 93).

Memang ada sebagian ulama yang memakruhkan memakan daging kelinci , namun dalil-dalil yang dikemukakannya berasal dari riwayat-riwayat yang lemah. Sehingga pendapat mayoritas ulama yang menghalalkannya jauh lebih valid dan bisa diterima.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menyatakan, daging kelinci cenderung panas dan kering. Bagian yang terbaik adalah bagian pinggul. Labih baik lagi jika dipanggang. Daging ini dapat memperkuat otot perut, melancarkan buang air kecil, dan menghancurkan batu ginjal. Jika kepalanya dimakan dapat membantu mengatasi kedinginan. (Praktek Kedokteran Nabi, hlm. 461).

Semoga penjelasan ini bermanfaat. Wallahu a’lam.* (Kang Asti, www.perspektifislam.com).

 

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *