Hyena, Binatang Buas yang Halal Dimakan?

Dalam sebuah hadits disebutkan “Setiap binatang buas yang mempunyai taring, diharamkan untuk memakannya”. Apakah semua binatang buas haram hukumnya? Bagaimana dengan hewan bernama hyena yang katanya halal, sedang ia termasuk binatang buas yang bertaring?

Ya, memang benar Rasulullah Saw melarang memakan daging binatang buas yang bertaring, berdasarkan hadits dari Abu Tsa’labah al-Khusyani, bahwa Rasulullah Saw bersabda “Setiap hewan buas yang bertaring, maka memakannya adalah haram.” (HR. Muslim, Malik, dan selainnya).

Dalam an-Nihayah disebutkan, “Yaitu hewan yang memangsa hewan lain dan memakannya dengan cara paksa/mencabik, seperti singa, serigala, macan, dan semisalnya.” (Syaikh Shiddiiq Hasan Khaan, Fiqih Islam Jilid 3: hlm. 276).

Namun memang ada hewan buas yang dikecualikan, yakni hyena (adh-dhabu’). Hyena adalah hewan yang menyerupai serigala. Oleh para ahli, hyena kerap disebut-sebut sebagai perpaduan antara kucing dan anjing melihat perilaku dan penampilan fisiknya.

Para ulama madzhab Syafi’i, Hambali, dan Zhahiri, juga Imam Malik, serta Abu Yusuf dan Muhammad dari Madzhab Hanafi menilai daging hyena mubah dan mengecualikannya dari kelompok binatang buas. (Abdul Wahab Abdussalam Thawilah, Fikih Kuliner: 81).

Dari Abdurrahman bin Abu Ammar ia menuturkan: Aku bertanya kepada Jabir ra, “Bolehkah aku berburu hyena?” Ia menjawab, “Ya”. Kutanyakan lagi, “Bolehkah aku memakannya?” Ia menjawab, “Ya”. Kutanyakan lagi, “Apakah Rasulullah Saw menyatakan hal tersebut?” Ia menjawab, “Ya”. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, an-Nasa’i, dan ast-Tirmidzi, dan ia menshahihkannya).

Riwayat tersebut juga dishahihkan oleh al-Bukhari, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, dan al-Baihaqi. (Syaikh Shiddiiq Hasan Khaan, op.cit: hlm. 277).

Jabir ra juga meriwayatkan, “Rasulullah Saw menyuruh kami memakan hyena.” (HR. At-Tirmidzi. Hadist Shahih).

Hadits dihalalkannya hyena mengkhususkan (takhshish) keumuman hadits yang mengharamkan binatang buas yang bertaring. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyatakan, “Hewan yang diharamkan ialah yang memiliki dua sifat, yaitu memiliki taring dan bersifat predator secara alami, seperti singa, serigala, harimau, dan macan. Sedangkan hyena hanya memiliki salah satu sifat yaitu bertaring, akan tetapi ia bukanlah predator yang agresif. Alasan diharamkannya predator buas adalah karena ia memiliki sifat buas yang bisa menular kepada pemakannya. Sedangkan hyena tidak termasuk predator agresif secara bahasa maupun istilah.” (Syaikh Shaleh bin Fauzan, Mulakhkhas Fiqhi Jilid 3: hlm. 455).

Meski madzhab Hanafi dan sekelompok ulama lainnya menyatakan haramnya hyena karena keumuman hadis haramnya memakan binatang buas yang bertaring, namun pendapat yang membolehkan mengonsumsi daging hyena lebih rajih karena dalilnya lebih kuat. (Syaikh Shaleh bin Fauzan, Fiqih Makanan: hlm. 64). Wallahu’alam. Semoga bermanfaat.* (Kang Asti, www.perspektifislam.com)

 

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *