Benarkah Daging Anjing Halal Dikonsumsi?

Di sebuah tayangan video di youtube, ada seorang ustad yang ditanya soal hukum mengonsumsi daging anjing, dan ia mengisyaratkan kehalalan daging anjing karena tidak ada dalil yang secara jelas mengharamkannya? Bagaimana sebenarnya? Benarkah daging anjing halal dikonsumsi? Mohon penjelasannya. Terima kasih.

Olahan daging anjing termasuk kuliner yang sudah mulai populer. Di Solo, juga di beberapa daerah lainnya di Jawa Tengah, termasuk di daerah saya (Purwodadi, Grobogan), dijumpai penjual kuliner olahan dari daging anjing, antara lain berupa sate, yang dikenal dengan istilah sate guguk.
Sebuah informasi menyatakan, di Solo, sate guguk sudah ada sejak sebelum reformasi. Namun, namanya waktu itu “sate jamu”. Nama tersebut diambil hanya untuk memperhalus kata guguk (anjing).

Konon, istilah sate guguk atau sate jamu berasal dari Manado yang penduduknya memang mayoritas non-muslim. Namun pada akhirnya jenis makanan ini berkembang di Jawa. Tidak hanya sate, daging anjing juga dibuat menu rica-rica dengan bumbu merica yang dominan dan berfungsi untuk menghangatkan badan.

Hukum mengonsumsi anjing sendiri, meski ada sebagian kecil ulama yang membolehkan, atau paling keras hanya memakruhkan karena tidak ada nash yang secara jelas mengharamkannya, namun mayoritas ulama dengan tegas dan jelas mengharamkan seorang muslim mengonsumsi anjing.

Abdul Wahab Abdussalam Thawilah dalam Fikih Kuliner (hlm. 175) menyatakan, “Mayoritas ulama (baik salaf maupun khalaf)—antara lain Imam Malik dalam sebuah pendapat, dan beberapa ulama Madzhab Maliki—menilai anjing muharram li ainihi (diharamkan karena substansinya) dan tidak halal dikonsumsi.

Argumentasi pengharaman anjing yang dikemukakan oleh para ulama setidaknya berdasarkan pada tiga hal:

  1.  Anjing merupakan binatang buas
  2. Rasulullah mengharamkan jual-beli anjing
  3. Anjing itu najis

Argumentasi pertama; anjing termasuk binatang buas yang dilarang oleh Rasulullah untuk dikonsumsi. Dalilnya, antara lain: Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi Saw bersabda: “Setiap binatang buas yang mempunyai gigi taring haram dimakan.” (HR. Muslim).

Argumentasi kedua; jual-beli anjing haram hukumnya. Dari Abu Az-Zubair, ia bercerita: Aku bertanya kepada Jabir ra tentang hasil penjualan anjing dan kucing, Rasulullah Saw pun melarang hal itu. (HR. Muslim dan lainnya).

Dari Rafi’ bin Khudaij ra bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Hasil penjualan anjing itu buruk” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i). Dalam riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi, redaksinya, “Anjing itu buruk, maka hasil penjualannya pun buruk.” (HR. Muttafaq Alaih).

Jika hasil penjualannya terlarang dan disifati oleh Rasulullah sebagai sesuatu yang buruk, maka mengkonsumsinya pun haram hukumnya.

Argumentasi yang ketiga; anjing itu najis. Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Jika anjing menjilati salah satu bejana kalian, maka cucilah sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan debu.” (HR. Muslim).

Kandungan hadits tersebut menunjukkan bahwa najisnya air liur anjing tergolong berat (mughallazhah), sehingga untuk menyucikannya harus dicuci dengan tujuh kali dengan salah satunya memakai debu. Dan, sesuatu yang najis berarti muharram li ainihi (diharamkan karena substansinya).

Dari paparan itu, status keharaman anjing jauh lebih rajih (kuat, valid) dan bisa diterima. Karena itu, Syaikh Shiddiiq Hasan Khaan dalam kitabnya Fiqih Islam (Jilid 3, hlm. 281) menyatakan, “Termasuk hewan yang diharamkan adalah anjing, dan tidak terdapat perbedaan dalam pengharamannya yang dapat dijadikan acuan.” Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.* (Kang Asti, www.perspektifislam.com).

 

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *