Hukum Kuliner Sate Kalajengking

Tanya, saya baca artikel, di Beijing (China) ada pedagang kuliner ekstrim Sate Kalajengking, bagaimana hukum mengonsumsinya?

Kalajengking adalah sekelompok hewan beruas dengan delapan kaki. Kalajengking masih berkerabat dengan ketonggeng, laba-laba, tungau, dan caplak. Ada sekitar 2000 jenis kalajengking. Semua spesies kalajengking memiliki bisa. Bisa kalajengking lebih berfungsi terhadap artropoda lainnya dan kebanyakan kalajengking tidak berbahaya bagi manusia. Sengatan kalajengking hanya menghasilkan efek lokal (seperti rasa sakit dan pembengkakan).

Di Indonesia, kalajengking dijadikan sebagai olahan kuliner belum populer. Kalau di luar negeri, selintas saya memang sempat membacanya di internet tentang informasi tersebut, yakni di Beijing, China. Tentu sebuah kuliner yang cukup ekstrim, meski konon kata yang sudah mencicipi kuliner sate kalajengking, rasanya gurih seperti udang.

Terkait hukum mengonsumsi kalajengking, para ulama terjadi perbedaan pendapat. Imam Malik berpendapat bahwa tidak apa-apa memakan serangga tanah, kalajengking, dan cacing. Juga tidak apa-apa memakan anak tawon, belatung keju, belatung kurma, dan sejenisnya. (Sayyid Sabiq, Fiqih Sunah Jilid 3: hlm. 431).

Penulis Fiqih Wadhih meriwayatkan dari Malik, Ibnu Abi Laila, dan Auzai diperbolehkannya makan ular, kalajengking, tikus, landak, dan kodok jika disembelih. Dalil mereka adalah perkataan Ibnu Abbas dan Abu Darda, “Apa yang dihalalkan Allah adalah halal dan apa yang diharamkan adalah haram, dan apa yang Allah diam atasnya maka ia termasuk dalam hukum afwu (dimaafkan).” (Fiqih Wadhih, Bab II, hlm. 396 seperti dikutip Syekh Fauzi Muhammad dalam Hidangan Islami, hlm. 106).

Namun mayoritas ulama menilai kalajengking haram dimakan karena tergolong buruk (khabits). (Abdul Wahab Abdussalam Thawilah, Fikih Kuliner: hlm. 103).

Ibnu Syihab, Urwah, Syafi’i, para ulama Hanafiyah, dan sejumlah ulama Madinah berpendapat bahwa serangga tanah dan binatang melata, seperti ular, tikus, dan sejenisnya, serta binatang yang boleh dibunuh, tidak boleh dimakan. (Sayyid Sabiq, op.cit hlm. 431).

Rasulullah Saw bersabda, “Lima dari binatang semuanya fasik, boleh dibunuh di tanah haram, yakni burung gagak, burung elang, kalajengking, tikus, dan anjing liar.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Nasa’i).

Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim menjelaskan, “Semua hewan yang syariat Islam memerintahkan untuk dibunuh, maka menurut jumhur ulama semua itu diharamkan memakannya. Hewan tersebut di antaranya: burung gagak, burung rajawali, tikus, tokek, ular, kalajengking, dan anjing yang suka menggigit.” (Fiqhus Sunnah Lin Nisa: hlm. 499).

Imam Syafi’i dan pengikutnya berkata, “Sesuatu yang dilarang dibunuh, diharamkan untuk dikonsumsi. Sebab, andaikata dihalalkan, tidak dilarang untuk dibunuh. Sebaliknya, sesuatu yang diperintahkan untuk dibunuh, berarti haram dikonsumsi. Sebab, andaikata dihalalkan, tentulah tidak diperintahkan untuk dibunuh.” (Abdul Wahab Andussalam Thawilah, Fikih Kuliner: hlm. 29).

Mengacu pada pendapat jumhur ulama, maka kalajengking haram dikonsumsi. Tidak hanya karena kalajengking termasuk binatang yang khabits (buruk), tapi juga karena kalajengking termasuk binatang fasik yang syariat membolehkan untuk membunuhnya. Wallahu a’alam.* (Kang Asti, www.perspektifislam.com).

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *