Hukum Hewan Hasil Persilangan Semisal Blengong

Bagaimana hukum hewan hasil perkawinan silang antara dua binatang yang berbeda semisal Blengong yang terkenal di daerah Brebes dan Tegal? Halal atau haram? Di sana daging Blengong menjadi olahan kuliner yang cukup favorit dan diandalkan. Terima kasih atas jawabannya.

Blengong adalah sejenis unggas hasil perkawinan silang antara bebek dan mentok/entok, sehingga memunculkan unggas baru bernama blengong. Blengong merupakan salah satu unggas endemik yang hanya bisa ditemui di Brebes, dan juga Tegal. Sejak puluhan tahun silam, daging Blengong telah diolah menjadi ragam kuliner dalam bentuk blengong bakar atau blengong gulai yang disuguhkan bersama kupat atau biasa disebut kupat blengong.

Seiring kemajuan zaman, blengong kini memiliki variasi yaitu blengong goreng. Hidangan ini layaknya ayam goreng atau bebek goreng. Daging blengong lebih empuk daripada daging bebek dengan citarasa yang khas dan lezat sehingga banyak penggemarnya.

Lalu bagaimanakah hukum mengonsumsi daging blengong?

Para ulama sepakat bahwa anak yang dilahirkan dari perkawinan silang dua jenis binatang yang sama-sama halal, maka halal pula hukum mengonsumsinya. (lihat Abdul Wahab Abdussalam Thawilah, Fikih Kuliner: hlm. 67).

Blengong adalah hasil perkawinan silang dua unggas, yakni bebek dan mentok. Bebek dan mentok keduanya sama-sama unggas yang terkategori thayyib (baik), sehingga keduanya sama-sama halal. Karenanya sudah barang tentu blengong halal dimakan.

Yang diharamkan adalah hewan yang lahir dari perkawinan silang antara hewan yang halal dimakan dan hewan yang haram dimakan, atau kedua-duanya hewan yang haram dimakan.

Dr. Shalih bin Fauzan menjelaskan, “Hewan yang lahir dari hewan yang halal dimakan dan yang tidak halal dimakan adalah haram untuk dimakan karena itu adalah hewan yang berasal dari dua makhluk hewan yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan sehingga sisi pelarangan yang lebih mendominasi, dan juga karena dia lahir dari hewan yang diharamkan sehingga dia juga mendapatkan hukumnya. Karenanya bighal diharamkan karena dia adalah keturunan dari keledai jinak dengan kuda, demikian pula diharamkan anjing hutan karena dia adalah keturunan dari serigala dengan hyena, baik yang boleh dimakan itu dari pihak induk jantan maupun betinanya.” (Fiqih Makanan, hlm. 92).

Demikian menjadi jelas terkait hukum hewan hasil perkawinan silang dari dua hewan yang berbeda. Wallahu a’lam.* (Kang Asti, www.perspektifislam.com).

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *