Burung Emprit, Halalkah?

Di Kediri, Jawa Timur, ada penjual sate dengan bahan dari daging burung emprit. Selain dijadikan sate, daging burung emprit juga disajikan dalam menu goreng dan krengsengan. Pertanyaan saya, halalkah memakan daging burung emprit?

Emprit atau disebut juga dengan nama bondol jawa adalah sejenis burung kecil pemakan padi dan biji-bijian. Badannya kecil, dari paruh hingga ujung ekor sekitar 11 cm, nyaris tidak memiliki daging yang bisa dinikmati. Burung ini sering ditemui di lingkungan pedesaan dan kota, terutama di dekat persawahan. Memakan padi dan aneka biji-bijian, burung emprit kerap mengunjungi sawah, padang rumput, lapangan terbuka bervegetasi dan kebun. Burung ini sering turun ke atas tanah atau berayun-ayun pada tangkai bunga rumput memakan bulir biji-bijian.

Burung emprit umumnya hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil. Kelompok pada mulanya terdiri dari beberapa ekor saja, akan tetapi di musim panen padi kelompok ini dapat membesar mencapai ratusan ekor. Nampak menyolok di sore hari pada saat terbang dan hinggap bersama-sama di pohon tempat tidurnya. Kelompok yang besar seperti ini dapat menjadi hama yang sangat merugikan petani padi.

Emprit sendiri juga banyak macamnya, selain bondol jawa, ada juga bondol haji atau emprit haji. Semua kelompok jenis burung-burung kecil ini, termasuk burung gereja, gelatik, dan yang sejenisnya, masuk dalam kelompok burung pipit (nama umum bagi sekelompok burung kecil pemakan biji-bijian).

Sate burung emprit (Sumber: telusurindonesia.com)
Sate burung emprit (Sumber: telusurindonesia.com)

Bagaimana hukum memakan burung pipit? Berdasarkan kesepakatan ulama, semua jenis burung pipit boleh dimakan. (Abdul Wahab Abdussalam Thawilah, Fikih Kuliner: hlm. 143). Syaikh Shiddiiq Hasan Khaan juga menyatakan, “Dan termasuk burung yang dibolehkan adalah merpati dan burung kecil, karena keduanya termasuk hewan yang baik.” (Fiqih Islam Jilid 3, hlm. 278).

Kategori burung yang diharamkan dikonsumsi adalah yang berkuku tajam yang digunakan untuk menerkam mangsanya. Syekh Shaleh bin Fauzan menyatakan, “Semua burung boleh dimakan, kecuali yang menerkam dengan cakarnya, seperti elang, rajawali, dan sejenisnya. Dalilnya adalah hadits Ibnu Abbas ra yang menyatakan, ‘Rasulullah Saw melarang semua binatang buas yang bertaring dan semua burung yang berkuku tajam (cakar)’. (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).” (Mulakhkhas Fiqhi Jilid 3, hlm. 455).

Demikian pula haram burung yang memakan bangkai, seperti burung gagak yang belang putih dan yang hitam besar karena keduanya dipandang buruk. (Imam Taqiyuddin Abu Bakar, Kifayatul Akhyar Jilid 2: hlm. 483).

Terkait dengan burung pipit, secara khusus Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang membunuh seekor burung pipit dengan maksud bermain-main (secara sia-sia), maka burung itu akan mengadu kepada Allah pada hari kiamat seraya berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya si fulan telah membunuhku dengan sia-sia, bukan untuk dimanfaatkan’.” (HR. Nasai dan Ibnu Hibban).

Di hadist lainnya. “Tidak ada seorang pun yang membunuh seekor burung pipit dan yang lebih kecil dari itu dengan tidak memenuhi haknya, melainkan Allah akan meminta pertanggungjawabannya pada hari kiamat.” Rasulullah kemudian ditanya, “Wahai Rasulullah, apakah haknya itu?” Beliau menjawab, “Yaitu disembelih kemudian dimakan, tidak diputus kepalanya, lantas dibuang begitu saja.” (HR. Nasai dan Al-Hakim).

Dalam hadits di atas, Rasulullah Saw mengisyaratkan kehalalan mengonsumsi burung pipit, dengan syarat tetap harus dilakukan penyembelihan terlebih dahulu. Wallahu a’lam.* (Kang Asti, www.perspektifislam.com).

 

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *