Daging Kuda, Halal atau Haram?

Saya pernah diberi oleh-oleh berupa abon daging kuda, namun saya enggan memakannya karena ragu akan kehalalan daging kuda. Kemudian saya browsing di internet ternyata daging kuda hukumnya halal. Benarkah? Mohon penjelasannya biar saya semakin yakin dan tidak ragu-ragu lagi. Terima kasih.

Kuda adalah hewan yang populer dijadikan sebagai tunggangan atau alat transportasi oleh manusia sejak ribuan tahun silam. Di Jawa, kuda disebut dengan nama jaran dan biasa dimanfaatkan sebagai penarik delman. Kuda juga sering disimbolkan sebagai lambang keperkasaan. Karena kuda memang dikenal sebagai hewan yang kuat/kokoh dan bisa berlari cepat.

Akhir-akhir ini memang marak kuliner yang dibuat dari olahan daging kuda. Daging kuda bisa diolah menjadi berbagai menu, seperti rica-rica, tongseng, sup, dan lain-lainnya, tapi yang paling populer adalah dijadikan sebagai sate. Sate kuda atau sate jaran sudah banyak dijumpai di berbagai daerah di Indonesia, baik di Jawa maupun di luar Jawa.

Daging kuda diyakini mengandung sejumlah khasiat bagi pemakannya, antara lain dapat menambah stamina tubuh, mengobati penyakit rematik, menyembuhkan pegal linu, dan sebagainya. Khasiat-khasiat itu menjadi daya tarik para pelanggan kuliner daging kuda meski penelitian tentang khasiat itu belum jelas akan kebenarannya.

Warung Sate Kuda (Sumber: flickr)
Warung Sate Kuda (Sumber: flickr)

Lalu, bagaimana hukum daging kuda? Halal ataukah haram?

Terkait dengan hukum daging kuda, jumhur ulama menyatakan kehalalannya, dengan berdasarkan dengan sejumlah hadits shahih. Antara lain, dari Asma’ bin Abu Bakar ra, ia berkata, “Pada zaman Rasulullah Saw kami pernah menyembelih seekor kuda, lalu kami memakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mengomentari hadits ini, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menyatakan, “Padanya disebutkan bahwa daging kuda halal dan boleh memakannya; karena termasuk yang baik-baik. Ini adalah madzhab tiga imam: Malik, Syafi’i, dan Ahmad. Dalil mereka bahwa hukum asalnya adalah halal. Juga terdapat keterangan valid akan kehalalannya dalam beberapa hadits shahih dari ketetapan beliau Saw sebagaimana dalam hadits ini, dan perkataannya dalam hadits berikutnya.” (Syarah Umdatul Ahkam, hlm. 945).

Dari Jabir ra berkata, “Rasulullah Saw pada waktu perang Khaibar melarang makan daging keledai negeri (jinak, piaraan) dan membolehkan daging kuda.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Muhammad bin Usmail Al-Amir Ash-Shan’ani mengomentari hadits ini dengan antara lain menyatakan, “Hadits ini merupakan dalil yang menghalalkan daging kuda. Inilah pendapat Zaid bin Ali, Asy-Syafi’i, dua ulama terkemuka madzhab Abu Hanifah, Ahmad, Ishaq, dan juhur ulama salaf dan khalaf berdasarkan hadits ini, dan juga hadits-hadits shahih lainnya yang mempunya makna sama.” (Subulus Salam, hlm. 524).

Namun sebagaian ulama dari madzhab Al-Hanafiyah, melalui jalur periwayatan Al-Hasan bin Ziyad, dan juga pendapat kedua dari madzhab Al-Malikiyah, menyelisihi pendapat jumhur ulama dan menyatakan haramnya memakan daging kuda. Berdalil dengan firman Allah Swt, “Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bighal (peranakan kuda dengan keledai), dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan.” (QS. An-Nahl: 8). (Ahmad Sarwat, Lc, MA, Halal atau Haram?: hlm. 175).

Sisi pendalilannya adalah disebutkan bahwa kita telah diberikan nikmat berupa binatang-binatang ini untuk dikendarai dan sebagai hiasan. Juga, telah diiringi dengan perkara-perkara yang sudah diketahui pengharamannya dengan yakin, yaitu keledai dan bighal dan juga terdapat larangan menyembelihnya. (Syarah Umdatul Ahkam, 945).

Namun dalil pengharaman kuda dengan mendasarkan pada ayat tersebut disanggah oleh jumhur ulama sebagai simpulan dalil yang kurang tepat. Karena penyebutan fungsi kuda, bighal, dan keledai untuk dinaiki dan sebagai hiasan, sama sekali tidak menunjukkan bahwa binatang ini tidak boleh dimanfaatkan untuk yang lainnya. Disebutkan manfaat “bisa ditunggangi dan sebagai hiasan” karena itulah umumnya manfaat yang diambil dari kuda.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menyatakan, “Disebutkannya daging kuda secara bersamaan dengan daging bighal dan keledai bukan berarti hukum dagingnya sama dalam segala sisi. Hukum yang berkaitan dengan pembagian dalam harta rampasan juga tidak sama. Allah sering menyebutkan secara bersamaan beberapa hal yang bertentangan. Firman Allah “..agar kalian menungganginya” tidak berarti daging hewan itu tidak boleh dimakan. Ayat itu juga tidak melarang kuda untuk digunakan selain untuk dikendarai, asalkan untuk dimanfaatkan untuk keperluan lain. Ayat itu menegaskan fungsi kuda yang paling pokok, yakni untuk dikendarai. Dua hadits yang menegaskan halalnya daging kuda adalah shahih. Tidak ada hadits yang bertentangan dengan kedua hadits tersebut.” (Praktek Kedokteran Nabi, hlm. 458).

Dengan demikian, insya Allah pendapat yang rajih (kuat) terkait status hukum daging kuda adalah pendapat jumhur ulama, yakni halalnya mengonsumsi daging kuda. Wallahu a’lam.* (Kang Asti, www.perspektifislam.com).

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *