Hukum Memakan Jerboa

Apakah hukum memakan daging jerboa?

Di Indonesia, tidak dijumpai binatang ini. Binatang jerboa hidup di padang pasir dan daerah kering di Afrika, Asia, dan Eropa Timur. Jerboa hidup berkelompok di dalam liang tanah (terowongan). Mereka keluar pada malam hari untuk mencari makanan. Mereka makan tanaman, biji-bijian, dan serangga. Saat musim dingin, jerboa akan berhibernasi (tidur selama musim dingin).

Jerboa merupakan mamalia yang bentuknya menyerupai kanguru kecil. Jerboa adalah binatang pengerat, mirip juga dengan tikus dan tupai. Jerboa berwarna cokelat kekuningan, memiliki telinga lancip, mata seperti kancing, dan kumis panjang. Kaki depannya pendek, sedangkan kaki belakangnya panjang dan kuat. Jerboa biasanya berjalan menggunakan kaki belakang mereka. Ketika ketakutan, mereka akan segera menyingkir dengan cara melompat-lompat seperti kanguru.

Terkait hukum mengonsumsi dagingnya, terjadi silang pendapat (khilaf) di kalangan ulama. Para ulama Madzhab Hanafi, dan juga Imam Ahmad dalam satu riwayatnya, menilai hukumnya haram dikonsumsi. Mereka mengemukakan argumentasi, jerboa termasuk hewan bertaring, sehingga tercakup dalam keumuman hadits tentang larangan mengonsumsi binatang buas. Di samping itu, jerboa mirip dengan tikus, sehingga ia tergolong mustakhbats.

Namun mayoritas ulama, antara lain para ulama Madzhab Syafi’i, juga Imam Ahmad dalam riwayat lain yang dinilai kuat dalam madzhabnya, menilai hukumnya boleh dikonsumsi. Mereka memberikan argumentasi, orang-orang Arab menganggapnya thayyib, taringnya lemah, dan wajib bagi orang yang berihram—jika ia membunuhnya, membayar denda.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Umar ra melarang orang-orang yang berihram memburunya di lubang. Larangan itu ia sampaikan di hadapan para sahabat. Berarti, ini menunjukkan bahwa jerboa termasuk yang halal diburu (di luar Tanah Suci) untuk dimakan.

Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan menyatakan, “Yang rajih adalah pendapat yang membolehkan makan yarbu’ (jerboa), tetapi bukan karena berdalilkan dengan alasan yang dikemukakan oleh para ulama yang membolehkannya, karena hukum asalnya adalah mubah, sementara tidak ada dalil yang mengharamkannya. Menggolongkan ke dalam hewan buas tidak bisa diterima karena kriteria hewan buas tidak ada padanya. Juga tidak benar mengkiaskannya dengan tikus karena adanya perbedaan di antara keduanya. Tikus termasuk hewan kotor yang diperintahkan untuk dibunuh sedangkan yarbu’ tidak.” (Fiqih Makanan: 72). Semoga penjelasan ini bermanfaat. Wallahu a’lam.* (Kang Asti, www.perspektifislam.com).

 

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *