Apakah Tikus Haram?

Saat ini sedang heboh bakso berbahan daging celeng atau babi di sebuah daerah di Jakarta, yang membuat trauma warga sekitar untuk mengonsumsi bakso. Sebelumnya juga pernah, bahkan beberapa kali, heboh bakso dengan memanfaatkan daging tikus di berbagai daerah. Kalau daging babi sudah jelas keharamannya menurut syariat Islam, bagaimana kalau daging tikus? Apakah juga haram? Mohon penjelasannya.

Tikus merupakan salah satu binatang pengerat yang sangat mengganggu dan membawa sejumlah penyakit, seperti Salmonella, penyakit Weil, E.coli dan TB. Tikus sawah sering merusak tanaman petani dan tikus rumah sering mengotori rumah dengan membuat sarang dan beranak pinak di kolong-kolong rumah.

Selain tikus sawah dan tikus rumahan, ada juga jenis tikus got atau yang familiar dengan sebutan tikus werog. Tikus ini memiliki daging kemerahan, dengan serat lebih keras dari daging sapi atau kerbau. Pada musim tertentu, populasi tikus got bisa luar biasa banyaknya. Selain sisi jumlah, tikus got memiliki ukuran badan yang relatif lebih besar dibanding tikus rumah pada umumnya.

Heboh kasus bakso tikus, dan yang terkini heboh bakso daging babi, telah menjadi catatan tersendiri dalam sejarah dunia kuliner di negeri kita. Kalau babi telah jelas keharamannya sesuai nash yang termaktub dalam Al-Qur’an, bagaimana halnya dengan tikus? Apakah juga haram?

Sebuah hadits shahih berikut ini bisa menjawabnya. Diriwayatkan dari Aisyah ra, bahwasannya Rasulullah Saw bersabda, “Ada lima binatang yang semuanya adalah fasiq. Mereka boleh dibunuh di tanah Haram, yaitu burung gagak, rajawali, kalajengking, tikus, dan anjing rabies.” (HR. Bukhari). Lafadz milik Muslim rahimahullah: “Ada lima binatang fasiq yang boleh dibunuh di tanah Halal dan tanah Haram.” (HR. Muslim).

Menurut Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, “Mereka (kelima binatang) itu boleh—bahkan disyariatkan—dibunuh di wilayah tanah Halal maupun tanah Haram, karena mereka adalah binatang-binatang jahat dan mengganggu. (Syarah Umdatul Ahkam, hlm. 514).

As-Shan’ani menyatakan, “Hewan-hewan tersebut disebut fasiq, karena kata-kata fasiq berarti keluar, sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah Allah Ta’ala, “Maka ia mendurhakai perintah Rabbnya” (QS. Al-Kahfi: 50), kemudian orang yang berbuat maksiat disebut fasiq karena ia keluar dari ketaatan kepada Tuhannya. Dan hewan-hewan di atas disebut demikian karena mereka keluar dari hukum asli kebanyakan hewan yang pada dasarnya hukumnya haram untuk dibunuh…..ada juga yang mengatakan bahwa mereka keluar dari hukum asli kebanyakan hewan, yang mereka itu mengganggu, menimbulkan kerusakan, dan tidak bermanfaat. Demikian inilah alasan-alasan yang karenanya kelima hewan tersebut halal untuk dibunuh.” (Subulus Salam Syarah Bulughul Maram, hlm. 239).

Jumhur ulama sepakat bahwasannya binatang-binatang yang disyariatkan untuk dibunuh maka haram pula untuk dikonsumsi. (Fiqhus Sunah Lin Nisa, hlm. 499).

Dalam Nailul Authar (Jilid 8, hlm. 601), Asy-Syaukani menyatakan bahwa perintah membunuh dan melarang membunuh adalah termasuk pokok pengharaman. Al-Mahdi dalam kitabnya Al-Bahru Al-Muhith menyatakan bahwa dasar atau pokok pengharaman itu bisa berupa Al-Kitab (Al-Qur’an), atau As-Sunnah, atau perintah membunuh ke lima jenis binatang tersebut.

Dengan demikian, menjadi jelas bahwa hukum mengonsumsi tikus adalah haram, karena tikus termasuk satu dari 5 jenis binatang yang disebut oleh Rasulullah Saw sebagai hewan fasiq yang disyariatkan untuk dibunuh. Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dalam kitabnya Sabilal Muhtadin (Jilid 2, hlm. 1125) menyatakan, haram memakan daging binatang yang disunatkan membunuhnya seperti ular, kala, burung gagak yang berbelang, tikus, dan setiap binatang yang membinasakan seperti lipan. Wallahu’alam.* (Kang Asti, www.perspektifislam.com).

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *