Bolehkah Istri Minta Duluan “Nafkah Batin” Kepada Suami?




Jika seorang istri meminta “nafkah batin” (baca: hubungan seksual) duluan kepada suaminya, bagaimana hukumnya?

Menurut syariat Islam, pernikahan adalah satu-satunya institusi di mana seksualitas manusia halal diekspresikan. Hanya dalam ikatan pernikahanlah, hubungan seksual halal untuk dilakukan. Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an:

Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya.” (QS. Al-A’raaf: 189).
Di ayat lainnya:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ruum: 21).

Al-Qur’an menggambarkan pernikahan sebagai hubungan yang dalam dan kuat. Suami-istri harus bergaul secara baik dalam rumah tangga. Islam benar-benar mempromosikan pernikahan di mana pernikahan merupakan perlindungan dari keburukan seksual.

Seorang istri harus melayani kebutuhan seksual suaminya. Bila tanpa alasan yang valid, seorang istri tidak boleh menolak keinginan suaminya untuk berhubungan seks. Seorang istri juga tidak boleh berpuasa sunah tanpa seizin suaminya, karena itu dapat melanggar hak seksual suaminya.



Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwasannya Rasulullah Saw bersabda, “Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, sedangkan istrinya tidak memenuhinya, lantas semalaman suami merasa kecewa terhadapnya, maka dia dilaknat malaikat hingga pagi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Janganlah seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya ada di rumah pada hari selain bulan Ramadan, kecuali dengan izinnya.” (HR. Bukhari).

Sebaliknya, seorang suami harus memperlakukan istrinya dengan baik. Memenuhi kebutuhan seksual istrinya tanpa melakukan egoisme dengan misalnya menolaknya atau menyudahi hubungan seksual sebelum istrinya mencapai puncak kepuasan. Suami dan istri memiliki hak yang sama dalam mendapatkan kepuasan seksual dari pasangannya. Hak berhubungan seks dalam bingkai pernikahan yang sah dijamin oleh syariat. Tak ada pasangan yang boleh menolak tanpa alasan yang valid.

Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah sekali-kali seseorang di antara kalian menyenggamai istrinya seperti cara binatang (langsung tancap gas), tetapi hendaklah ada pengantarnya (foreplay).” (HR. Ad-Dailami).

Apabila salah seorang di antara kalian menyenggamai istrinya, maka yakinkan dirinya, bahwa barangkali ia mengakhiri hubungan sebelum istri terpenuhi kebutuhannya. Maka janganlah terburu-buru mengakhiri hingga istri terpenuhi kebutuhannya.” (HR. Abu Ya’la).

Kedua hadits ini secara eksplisit menyebutkan adanya hak memperoleh kenikmatan seksual (hak orgasme) bagi kaum istri yang tidak boleh diabaikan oleh para suami. Sehingga para suami tidak boleh berlaku egois mementingkan kepuasannya sendiri tanpa memperhatikan kepuasan istri.

M. Abdul Halim Hamid dalam kitabnya Kaifa Tus’ud Zaujatak menyatakan, jumhur ulama sepakat, melakukan jima’ (hubungan seks) bagi suami, apabila tidak ada halangan, hukumnya wajib.

Rasulullah Saw telah mencela orang-orang yang menjauhi istri-istrinya. Juga melarang mereka meninggalkannya terlalu lama meskipun untuk tujuan dzikir, ibadah, dan jihad. Karena ulah yang demikian itu hakikatnya menyiksa perasaan istri.

Rasulullah bersabda sembari mencela orang-orang yang menjauhkan diri dari kenikmatan; dengan meninggalkan perempuan, puasa terus-menerus, dan tidak mau tidur untuk qiyamul lail.

…Demi Allah, aku ini orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan tidur, dan aku menikahi perempuan. Barangsiapa yang mengingkari sunnahku, ia bukan golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Saw juga mencela Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash ra yang menjauhi istrinya, sebagaimana Salman ra mencela Abu Darda’, seraya berkata kepadanya: “Puasa dan berbukalah, tidur dan bangunlah, karena sesungguhnya jasadmu memiliki hak, matamu memiliki hak, istrimu memiliki hak, dan tamumu juga memiliki hak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berkatalah Salman ra kepada Abu Darda’: “Sesungguhnya dirimu memiliki hak, Tuhanmu memiliki hak, tamumu memiliki hak, dan istrimu juga memiliki hak. Berikanlah orang yang memiliki hak itu haknya.” Keduanya lalu datang kepada Rasulullah Saw dan menutukan perbincangan itu. Maka bersabdalah Rasulullah Saw, “Salman benar.” (HR. Bukhari).

Hadits ini menjelaskan bahwa seorang wanita memiliki hak yang harus ditunaikan oleh suaminya baik berupa hak untuk berhubungan seksual maupun yang lainnya. Seorang suami tidak diperbolehkan melalaikan hak istrinya ini dengan apapun juga, sekalipun dengan alasan ibadah.

Dalam khazanah fiqh, hanya madzhab Syafi’i yang berpendapat bahwa hubungan seksual merupakan hak suami saja, sedang istri tidak berhak terhadapnya. Karena itu, suami boleh meninggalkan hubungan seksual ini sebagaimana dibolehkannya seseorang untuk tinggal di rumah yang disewanya.

Pendapat ini bertentangan dengan pendapat mayoritas ulama, yakni dari kalangan madzhab Hanafi, Maliki, dan Hambali, yang menyatakan bahwa bermesraan dengan hubungan seksual merupakan hak yang permanen bagi suami dan istri. Salah satu dari keduanya tidak boleh mencegah pasangannya dari hak ini, kecuali dengan udzur syar’i (halangan yang dibenarkan oleh syariat) seperti haid, nifas, ihram, dan sebagainya. Seorang suami berhak menuntut istrinya melakukan hubungan seksual kapan saja ia mau. Sebaliknya, istri juga berhak menuntut suaminya untuk melakukan hubungan seksual kapan ia mau.



Baik pendapat madzhab Syafi’i maupun pendapat mayorits ulama masing-masing memiliki argumentasi yang didasarkan pada dalil-dalil dari Kitabullah dan As-Sunnah. Namun, menurut Zainab Hasan Syarqawi dalam Ahkamul Mu’asyarah Az-Zaujiyah, pendapat jumhurlah yang lebih kuat karena kuatnya dalil-dalil yang mereka gunakan baik dari Kitab, Sunnah, dan logika dan karena pendapat para penganut madzhab Syafi’i bertentangan dengan naluri seksual yang terdapat pula pada diri wanita.

Seperti halnya laki-laki mempunyai naluri seksual dan hak untuk memuaskannya dengan pernikahan yang sah, maka demikian halnya wanita memiliki naluri yang sama dan ia juga perlu memuaskan nalurinya ini dengan pernikahan yang sah pula.

Karenanya, dapat dipahami dan diambil kesimpulan bahwa seorang istri mempunyai hak dan tak ada larangan sama sekali meminta duluan hak “nafkah batin” (baca: hubungan seksual) kepada suami ketika menginginkannya, sepanjang di waktu dan kondisi yang tidak terlarang seperti saat haid, nifas, ihram, dan sebagainya. Bila istri menginginkannya, suami tidak boleh menolaknya tanpa alasan yang valid, sebagaimana syariat juga melarang wanita menolak ajakan berhubungan seks oleh suami tanpa ada alasan yang juga valid.

Dalam Al-Qur’an disebutkan, “….dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf …”. (QS. Al-Baqarah: 228). Wallahu a’lam. Semoga paparan ini bermanfaat.* (Kang Asti, www.perspektifislam.com).

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

One Comment on “Bolehkah Istri Minta Duluan “Nafkah Batin” Kepada Suami?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *