Benarkah Diperbolehkan Shalat Sunah Sambil Duduk Padahal Ia Mampu Berdiri?

Seorang teman pernah bilang ke saya bahwa kita diperbolehkan shalat sunah sambil duduk, walaupun sebenarnya kita mampu berdiri, akan tetapi kita hanya mendapatkan pahala separuhnya saja dibanding bila kita melakukannya dengan berdiri. Benarkah perkataan teman saya itu? Mohon penjelasannya. Terima kasih.

Para ulama sepakat bahwa orang yang sehat dan mampu berdiri tidak boleh mengerjakan shalat fardhu dengan duduk. Kecuali bila ada udzur seperti sakit atau cacat yang tidak memungkinkan seseorang untuk shahat dengan berdiri. Maka dalam kondisi demikian, diperbolehkan shalat dengan duduk atau berbaring, sesuai dengan kemampuannya.

Rasulullah Saw bersabda, “Shalatlah kamu dengan berdiri. Apabila tidak kuasa dengan berdiri, shalatlah dengan duduk. Dan apabila tidak kuasa dengan duduk, shalatlah di atas lambungmu (tidur miring).” (HR. Bukhari).

An-Nasa’i menambahkan riwayatnya demikian, “Apabila kamu tidak kuat, shalatlah sambil berbaring (menelentang). Allah tidak memaksakan sesuatu atas manusia kecuali sekedar kemampuannya.

Adapun shalat sunah atau sering juga disebut dengan shalat nafilah diperbolehkan dikerjakan dengan duduk, meski tanpa udzur. Akan tetapi shalat yang dilakukan dengan berdiri pahalanya lebih besar, karena shalat orang yang duduk pahalanya separuh pahala shalat orang yang berdiri.

Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dalam kitab karyanya Kitab Sabilal Muhtadin (Jilid 1, hlm. 423-424) menyatakan, “Dan boleh orang yang mampu shalat berdiri mengerjakan shalat sunah dengan duduk atau berbaring sekalipun shalat hari raya, shalat gerhana, dan shalat minta hujan. Dan pahala shalat dengan duduk separuh dari shalat berdiri dan shalat berbaring yang miring ke sebelah kanan separuh pahala dari shalat dengan duduk.”

Dari Imran bin Hushain, dia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw tentang shalat seseorang yang dilakukan dengan duduk, maka beliau bersabda, ‘Jika dia melakukan shalat dengan berdiri maka itu lebih utama. Siapa saja yang mengerjakan shalat sambil duduk, maka dia mendapatkan separuh pahala orang yang shalat sambil berdiri. Barangsiapa mengerjakan shalat dengan berbaring tidur, maka dia mendapatkan separuh pahala yang didapatkan oleh orang yang melakukan shalat dengan duduk’.” (HR. Bukhari).

Akan tetapi jikalau dia mengerjakan shalat dengan duduk karena adanya udzur, maka pahala shalatnya tidak berkurang sedikit pun. Hal itu berdasarkan  sabda Rasulullah Saw: “Apabila seorang hamba Allah menderita sakit, atau sedang bepergian, ditetapkan untuk dia pahala amalan yang biasa dia lakukan dalam kondisi mukim dan sehat.” (HR. Bukhari). (Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, Fiqhus Sunnah Lin Nisa, hlm. 155-156).

Dari paparan di atas menjadi jelas bahwa apa yang dinyatakan oleh teman Anda tentang kebolehan shalat sunah dengan duduk tanpa ada udzur memang benar adanya. Anda boleh melakukan shalat sunah semisal shalat dhuha atau shalat tahajud atau shalat tarawih, dengan duduk, walau Anda kuasa berdiri. Namun shalat dengan berdiri jauh lebih afdhal (utama) dan pahalanya jauh lebih banyak. Mungkin adanya dispensasi ini adalah dalam rangka untuk mendorong agar umat Islam berlomba-lomba memperbanyak shalat sunah meski saat kondisi tubuh sedang capek atau malas. Shalat dengan duduk bisa menjadi pilihan saat capek atau menjadi variasi dalam shalat yang jumlah rekaatnya banyak seperti shalat tahajud di malam hari. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.* (Kang Asti, www.perspektifislam.com).

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *