Kisah Tobat yang Berbuah Nikmat

Ilustrasi: google image
Ilustrasi: google image

Kisah ini dituturkan oleh Al-Faqih Abul Laits As-Samarqandi dalam kitabnya yang monumental berjudul Tanbihul Ghafilin. Sebuah kisah yang amat menggetarkan hati, yakni tentang dahsyatnya tobat yang dilakukan dengan sepenuh ketulusan dan kesungguhan. Kisahnya begini. Mari kita simak bersama.

Adalah Tsa’labah Al-Anshari, ia dipersaudarakan dengan Sa’id bin Abdurrahman ketika Rasulullah menetapkan persaudaraan di antara kaum muslimin. Ketika itu Rasulullah bersiap menuju Tabuk untuk berperang melawan kaum musyrikin.  Sa’id bin Abdurrahman ikut serta dalam rombongan Rasulullah.

Adapun Tsa’labah, ia tidak turut serta dalam peperangan itu. Ia tinggal di rumah Sa’id untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga Sa’id, seperti mencari kayu bakar dan mengambil air. Ia lakukan itu dengan niat tulus ikhlas, semata mencari keridhaan Allah Azza wa Jalla.

Suatu saat, sewaktu Tsa’labah masuk ke rumah, tiba-tiba sebuah bisikan jahat yang berasal dari Iblis la’natullah merasuk ke dalam hatinya. Ia tergoda untuk membuka tirai yang selama ini menjadi tabir interaksi antara dirinya dengan istri Sa’id. Begitu tirai terbuka, ia pun takjub dan terpesona melihat istri Sa’id yang jelita. Bergeloralah nafsunya. Ia pun tergoda. Lalu terjadilah sesuatu yang tidak diinginkan. Tsa’labah telah menodai dirinya dengan perilaku tercela. Ia telah memperdaya istri Sa’id, saudaranya.

Sesaat setelah kejadian itu, istri Sa’id pun berkata, “Wahai Tsa’labah, sungguh engkau tidak bisa menjaga kehormatan saudaramu yang sedang pergi berjuang di jalan Allah!”

Perkataan istri Sa’id itu menghentak kesadaran Tsa’labah. Ia pun berkata lantang, “Wahai, celaka dan binasalah aku!”

Berkata begitu, Tsa’labah pun bergegas lari menuju ke atas bukit, lalu berseru lantang selantang-lantangnya, “Ya Rabb, Engkau, Engkau, dan aku, aku….Engkau yang selalu mengampuni dosa dan aku yang selalu melakukan dosa…”

* * *

Ketika Rasulullah tiba dari peperangan, semua saudara yang ditinggal perang oleh saudaranya menyambut kedatangan mereka, kecuali Tsa’labah, yang dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan Sa’id. Didorong rasa heran, Sa’id pun bergegas pulang ke rumahnya dan menanyakan hal itu kepada istrinya. “Wahai istriku, apa gerangan yang telah terjadi dengan Tsa’labah, yang kita bersaudara karena Allah?” tanya Sa’id.

“Wahai suamiku, ketahuilah, Tsa’labah telah menjerumuskan dirinya pada kubangan dosa, lalu ia berlari menuju ke atas puncak bukit,” jawab istrinya.

Sa’id pun bergegas menuju bukit. Setiba di puncak bukit, ia menjumpai Tsa’labah sedang bersujud dengan meletakkan kedua tangannya pada kepalanya seraya berseru dengan suara yang begitu keras, “Alangkah hinanya kedudukan orang yang berbuat maksiat kepada Tuhannya.”

Perlahan Sa’id mendekati Tsa’labah. Lalu berkata kepadanya dengan lembut, “Bangkitlah wahai saudaraku, apakah yang menyebabkan engkau sampai berbuat seperti ini?”

Tsa’labah menjawab, “Aku tidak akan bangkit sebelum engkau mengikat kedua tanganku pada leherku dan menuntunku sebagaimana budak yang hina dituntun ke pintu tuannya.”

Berat rasanya Sa’id memenuhi permintaan saudaranya itu. Namun karena Sa’id tetap bergeming, Sa’id pun akhirnya melakukan apa yang diminta oleh saudaranya itu. Dituntunlah Tsa’labah ke rumahnya. Diserahkannya Tsa’labah kepada anaknya yang bernama Khamshanah.

Sejurus kemudian, Khamshanah menuntun ayahnya menjumpai Umar bin Khattab. Tsa’labah pun menceritakan perbuatan keji yang dilakukannya kepada Umar. Seusai bercerita, ia bertanya kepada Umar, “Wahai Umar, katakan kepadaku, bagaimana aku bertaubat?”

Respons Umar sungguh di luar dugaannya. Umar jutsru mengusirnya dengan berkata, “Pergilah engkau wahai pendosa. Cepat pergi dari hadapanku. Menurutku, engkau tidak akan bisa bertobat untuk selama-lamanya.”

Bergegaslah ia pergi dari hadapan Umar, lalu menjumpai Abu Bakar. Namun, Abu Bakar pun mengusirnya seperti yang dilakukan Umar. Begitu pun ketika ia menjumpai Ali bin Abu Thalib. Ia pun diusir oleh Ali.

Saat keluar dari rumah Ali,  ia berkata, “Wahai anakku, semua orang telah mematahkan harapanku. Aku berharap Rasulullah tidak memutuskan harapanku.”

Khamshanah lalu membawa ayahnya menuju Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam. Tatkala masuk rumah beliau dan beliau melihat keadaan Tsa’labah, Rasulullah pun berkata, “Wahai Tsa’labah, engkau telah mengingatkan aku tentang rantai dan belenggu neraka jahannam.”

Tsa’labah lalu menceritakan perilaku keji yang telah dilakukannya kepada Rasulullah. “Wahai Nabiyullah, sungguh aku telah melakukan perbuatan keji dengan istri saudaraku sewaktu ia berperang di jalan Allah bersamamu. Beri aku petunjuk, bagaimana aku bertobat?” adunya.

Sungguh, di luar harapan Tsa’labah, Rasul pun mengusirnya. “Pergilah dari sisiku wahai Tsa’labah. Menurutku, engkau tidak bisa bertobat untuk selama-lamanya.”

* * *

Hancur sudah hati Tsa’labah. Hancur berkeping-keping. Harapannya seperti sirna sudah. Menyerpih dalam beribu serpihan. Apalagi, setelah berlalu dari sisi Rasulullah, anak yang sangat disayanginya pun meninggalkannya.

“Wahai ayahku. Maafkan aku. Mulai detik ini engkau bukan ayahku lagi, hingga Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya ridha kepadamu,” kata Khamshanah seraya meninggalkan ayahnya.

Lengkap sudah derita Tsa’labah. Hatinya merana. Dengan tertatih dan jiwa yang nyaris putus asa, serta tangan masih terbelenggu di leher, ia kembali menuju puncak bukit. Di atas bukit nan lengang, ia menjerit, mengadu kepada Allah Subhanahu wata’ala.

“Ya Allah, Rabb semesta alam, aku telah mendatangi Umar, namun ia malah mengusirku. Aku telah mendatangi Abu Bakar, ia juga mengusirku. Aku telah mendatangi Ali, ia juga mengusirku. Bahkan aku telah mendatangi Rasulullah, nabi utusan-Mu yang mulia, ia juga memutuskan harapanku. Kini tinggal Engkau… Engkah wahai Tuhanku, apa yang akan Engkau lakukan terhadapku. Aku mohon jawaban atas doaku, ‘ya’ atau ‘tidak’. Jika engkau menjawab ‘tidak’, alangkah celakanya aku. Dan jikalau Engkau menjawab ‘ya’, betapa bahagianya diriku.”

Seketika, turunlah malaikat dari langit menjumpai Nabiyullah Muhammad Shallallahu‘alaihi wa sallam. Malaikat berkata kepada beliau, “Allah bertanya kepadamu, wahai Muhammad, ‘Siapakah yang menciptakan makhluk, Allah atau dirimu?’”

Beliau menjawab, “Allah”.

Malaikat pun berkata, “Allah memerintahkan kepadamu untuk menyampaikan berita gembira kepada hamba-Nya, karena Allah telah mengampuni dosanya.”

Menerima kabar itu, Nabi segera bersabda kepada para sahabatnya, “Siapakah yang bisa menjemput Tsa’labah untuk datang ke sini?”

Abu Bakar dan Umar spontan bangkit dan berkata, “Ya Rasulullah, kami akan menjemputnya.”

Ali dan Salman pun tak mau kalah. Keduanya juga bangkit dan berkata, “Wahai Rasulullah, biarlah kami yang menjemputnya.”

Akhirnya, beliau menunjuk Ali dan Salman. Keduanya bergegas berangkat menuju bukit di mana Tsa’labah berada. Di puncak bukit, keduanya berjumpa dengan penggembala dari Madinah. Ali pun bertanya, “Apakah engkau melihat sahabat Rasulullah di bukit ini?”

Penggembala itu menjawab, “Mungkin kalian sedang mencari seseorang yang lari karena takut kepada neraka Jahannam.”

Ali dan Salman pun mengangguk dan bertanya, “Benar, maka tunjukkanlah tempat di mana ia berada?”

Penggembala itu menjawab, “Tatkala malam tiba, maka ia akan datang ke lembah ini dan duduk di bawah pohon ini seraya berseru dengan suara yang lantang, ‘Betapa hinanya orang yang melakukan maksiat kepada Tuhan’.”

Hari masih terik ketika itu. Karenanya, Ali dan Salman menunggu di tempat itu hingga malam tiba. Lalu datanglah Tsa’labah. Ia duduk di bawah pohon dan bersujud dengan isak tangis yang menyayat.

Saat Salman mendengar tangisan itu, Salman perlahan mendekatinya. Dengan tutur lembut, Salman berkata, “Wahai Tsa’labah, bangkitlah. Bangkilah karena Allah telah mendengar tobatmu dan mengampuni dosamu.”

Dengan mata sebak karena tangis, Tsa’labah mendongak dan berkata, “Bagaimana sikap Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam?”

Salman menjawab dengan mantap, “Sebagaimana yang Tuhan inginkan dan engkau inginkan.”

* * *

Bilal bin Rabah mengumandangkan iqamah untuk shalat. Ali dan Salman membimbing Tsa’labah untuk memasuki masjid untuk shalat berjamaah. Ali dan Salman menempatkan Tsa’labah di shaf yang terakhir. Dalam shalat itu, Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam membaca Alhakumut Takaatsur. Saat mendengar ayat itu, Tsa’labah menarik nafasnya dalam-dalam. Dan ketika Rasulullah membaca Hatta zurtumul maqaabir, Tsa’labah lebih dalam lagi menarik nafasnya. Semakin dalam. Hingga tiada terasa malaikat maut menjemputnya. Pada kondisi shalat, Tsa’labah menjumpai ajalnya. Berpulang ke haribaan Tuhannya dengan tenang berselimut khusnul khatimah.

Seusai shalat, Rasulullah mendatangi Tsa’labah. “Wahai Salman, siramilah ia dengan air.”

Salman pun berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ia sudah wafat.”

Tiba-tiba Khamshanah, anak perempuan Tsa’labah, datang ke masjid. Khamshanah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, bagaimana kabar ayahku. Sesungguhnya aku telah sangat merindukannya.”

Beliau menjawab, “Masuklah engkau ke dalam masjid.”

Anak perempuan itu pun masuk ke dalam masjid dan mendapati ayahnya telah wafat. Takterelakkan lagi, kesedihan menjalari nadi anak perempuan itu. Duka menyelimuti jiwanya. Saat memegang kepala ayahnya, Khamshanah berkata dengan mata yang sebak oleh air mata, “Ayah, kini siapakah yang akan aku ikuti setelah engkau tiada?”.

Mendengar perkataan Khamshanah itu, Rasulullah lantas berkata, “Wahai Khamshanah, apakah engkau tidak suka apabila aku menjadi ayahmu dan Fatimah menjadi kakakmu?”

Mendengar itu, Khamshanah seketika mendongak ke arah Rasulullah seraya berkata, “Tentu senang, sangat senang wahai Rasulullah.” Khamshanah mendapatkan pelipur lara tak terperi di tengah duka yang menyelimuti jiwanya.

Ketika jenazah Tsa’labah diantar ke kubur, Rasulullah ikut mengiringkan jenazahnya. Manakala sampai di bibir liang kubur, beliau berjalan dengan ujung jari kakinya. Sewaktu pulang, Umar menanyakan perihal itu. “Ya Rasulullah, aku tadi melihat engkau berjalan dengan ujung jari kaki. Gerangan apakah yang terjadi?” tanya Umar.

Beliau menjawab, “Wahai Umar, tadi aku tidak bisa meletakkan semua telapak kaki karena banyaknya malaikat yang hadir.”

* * *

Di akhir penuturan kisahnya, Al-Faqih Abul Laits As-Samarqandi menyatakan, bahwa kisah di atas diriwayatkan oleh banyak penutur dengan berbagai versi susunan kalimatnya. Ada pula yang berpendapat, peristiwa tersebut telah menyebabkan turunnya sebuah ayat. Ayat yang dimaksud adalah:

Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imran: 135-136).* (Diceritakan kembali oleh Kang Asti, www.perspektifislam.com).

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *