Bolehkah Menggauli Istri di Depan Istri Lainnya?

Seorang suami yang mempunyai istri lebih dari satu, bolehkah ia menjima’ atau menggauli istrinya di depan istri yang lain? Atau menggaulinya di waktu yang bersamaan? Toh mereka sama-sama berstatus sebagai istrinya yang sah? Mohon penjelasannya.

Hubungan seksual antara suami dan istri adalah wilayah privasi yang tidak boleh dilihat dan didengar orang lain. Haram hukumnya melakukan persenggamaan atau hubungan seksual dengan istrinya di depan orang lain, begitu pula haram hukumnya menceritakan adegan seksualnya kepada orang lain.

Di sisi lain, Islam melarang melihat aurat orang lain, meskipun sesama laki-laki atau sesama perempuan, dengan bersyahwat atau tidak bersyahwat. Dalilnya adalah sebuah hadits: “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain. Jangan pula seorang wanita melihat aurat wanita lainnya. Janganlah seorang laki-laki berada dalam satu selimut dengan laki-laki lain dan jangan pula seorang wanita berada dalam satu selimut dengan wanita lain.” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi).

Menggauli istri di depan istri lainnya meruntuhkan privasi seksual yang amat dijaga oleh Islam dan membuka kesempatan istri lainnya melihat aurat istri yang digaulinya. Meski statusnya sama-sama istri yang sah, namun dalam urusan aurat, masing-masing istri tetap berlaku orang lain yang terlarang saling memperlihatkan aurat di antara mereka.

Dr. Abdullah Al-Faqih dalam Fiqih Jima’ (hlm. 41) menyatakan, laki-laki yang punya dua istri (atau lebih) tidak boleh menyetubui salah satu istrinya di hadapan istrinya yang lain, sebab hubungan suami-istri adalah suatu perkara yang harus ditutup-tutupi dan dirahasiakan. Tidak mungkin orang yang benar-benar beriman mau dengan sengaja melakukan perbuatan semacam ini di hadapan istrinya yang lain. Nabi Saw sendiri mendatangi istrinya satu per satu, yaitu ketika tiba giliran  mereka, dan setiap kali beliau mendatangi salah satu dari mereka, beliau berwudlu dan membasuh kemaluannya.

Tentang cara bersetubuh Nabi, Aisyah radhiyallahu anha menyatakan, “Janganlah seorang suami menggabungkan dua istrinya di mana salah satu dari keduanya dapat melihat pihak lain atau mendengarkan desahan keduanya, dan janganlah mencium dan menggaulinya di hadapan orang lain.”

Ibnu Qudamah berkata, “Meskipun sang istri rela suaminya menyetubuhi istrinya yang lain di mana ia dapat melihatnya, hukumnya tetap tidak boleh. Sebab perbuatan ini mengandung unsur melecehkan, meremehkan, dan menjatuhkan kewibawaan. Oleh karenanya tidaklah boleh meski kedua istrinya meridhai. Di samping itu, perbuatan ini berarti menyingkap aurat salah satu keduanya di hadapan yang lain, dan ini tidak dibolehkan.”

Jadi, tidak bisa ditoleransi dan dibenarkan jika ada suami yang menyetubuhi atau menggauli istrinya di hadapan istrinya yang lain atau menyetubuhi kedua istrinya atau lebih dalam satu waktu dan tempat. Yang diperbolehkan oleh syariat Islam adalah jika suami menggauli salah satunya setelah menyetubuhi yang lain, namun dengan syarat, persetubuhan itu tidak di hadapan atau dengan penglihatan istri yang lainnya alias di waktu dan tempat yang terpisah. Semoga menjadi jelas dan bermanfaat.* (Kang Asti, www.perspektifislam.com).

 

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *