Kisah si Belang, si Botak, dan si Buta (Renungan yang Menyentuh Hati tentang Syukur atas Karunia-Nya)

Ilustrasi: google image
Ilustrasi: google image

Kisah penuh hikmah ini merupakan hadits panjang yang diriwayatkan oleh dua periwayat hadits paling otoritatif, yakni Imam Bukhari dan Muslim. Imam Nawawi rahimahullah mencantumkan kisah ini dalam kitab momumentalnya yang berjudul Riyadhush Shalihin pada bab Muraqafah (mawas diri). Begini kisah selengkapnya.

Pada suatu masa, di negeri Bani Israil, hiduplah tiga sekawan dengan masing-masing memiliki kekurangan yang berbeda pada fisiknya. Seorang memiliki kulit yang belang pada sekujur tubuhnya, seorang lagi botak kepalanya, dan seorang lagi buta matanya. Secara terpisah, ketiga sekawan itu kemudian diuji oleh Allah Azza wa Jalla dengan mengirim malaikat-Nya.

Datanglah malaikat pada orang pertama. Malaikat menjumpai orang itu dengan rupa manusia. Bercakaplah kemudian mereka.

“Hai Belang, saat ini apa gerangan yang paling engkau inginkan dalam kehidupan ini,” tanya malaikat yang menyaru manusia.

“Tentu saja yang paling aku inginkan saat ini adalah kulit yang halus dan paras yang rupawan. Aku ingin belang yang ada di sekujur tubuhku lenyap sehingga orang-orang tak lagi enggan bergaul denganku,” jawab si Belang.

Sejurus kemudian, diusaplah tubuhnya oleh malaikat. Seketika lenyaplah belangnya. Kini tubuh si belang itu berubah menjadi halus. Parasnya berubah menjadi amat rupawan. Bergembira ria-lah laki-laki itu.

“Setelah kulitmu tak lagi belang, bahkan sekarang jadi halus dan bersinar, apalagi yang engkau inginkan,” tanya malaikat.

“Aku ingin beternak unta,” jawabnya.

Oleh malaikat, ia pun diberi unta yang tengah mengandung, disertai doa, “Mudah-mudahan Allah memberkahi engkau selama engkau berwirausaha dengan unta itu.”

* * *

Datanglah malaikat kepada orang kedua. Malaikat jua menyaru manusia saat menemui laki-laki yang botak kepalanya itu. Terlibatlah keduanya dalam percakapan.

“Hai Botak, selama ini apa yang paling engkau inginkan dalam kehidupan ini?” tanya malaikat.

“Tentu saja aku amat menginginkan memiliki rambut yang indah dan menarik. Tidak lagi botak yang membuat banyak orang merendahkan dan menghinakanku,” jawab si Botak.

Diusaplah kepala laki-laki plontos itu. Seketika, tumbuhlah rambut di kepala laki-laki itu. Rambut yang tumbuh di kepalanya berwarna hitam berkilat-kilat amat memukau. Laki-laki itu senang bukan alang kepalang.

“Setelah kepalamu tak lagi botak, bahkan tumbuh rambut yang hitam memesona, apalagi yang engkau inginkan?”

“Aku ingin memelihara sapi perah,” jawab laki-laki itu.

Oleh malaikat, diberilah ia seekor sapi perah yang tengah mengandung. Kepadanya juga dihulurkan doa sebagaimana doa kepada laki-laki pertama.

* * *

Datanglah jua malaikat kepada laki-laki ketiga dengan menyaru manusia. “Hai Buta, apa gerangan yang paling engkau inginkan dalam kehidupan ini?” tanya malaikat.

“Tentu saja aku ingin dipulihkan penglihatanku, sehingga aku dapat melihat manusia lainnya dan dapat menikmati pesona keindahan ciptaan-Nya, sehingga bertambahlah kenikmatan dalam hidupku,” tanya si Buta.

Diusaplah kemudian kedua mata si Buta itu. Seketika, pulihlah penglihatannya. Matanya bisa melihat alam ciptaan-Nya. Bersyukurlah laki-laki itu dengan hati yang diliputi suka cita.

“Setelah matamu bisa melihat, apalagi yang engkau inginkan?” tanya malaikat.

“Aku ingin memelihara domba,” jawabnya.

Diberilah oleh malaikat itu, seekor domba yang tengah mengandung, sembari diiringi doa yang sama seperti doa kepada laki-laki pertama dan kedua.

* * *

Alkisah, bertahun-tahun kemudian, berkembanglah peternakan ketiga laki-laki itu. Ketiganya menjadi orang kaya raya. Hartanya melimpah ruah. Propertinya ada di mana-mana. Tibalah kini ujian-Nya tiba. Malaikat kembali datang menguji iman mereka bertiga.

Datanglah malaikat kepada orang pertama. Malaikat menyaru seorang laki-laki miskin yang sekujur tubuhnya belang sehingga kondisinya amat menjijikkan. “Permisi tuan. Perkenalkan, aku musafir miskin yang sedang kehabisan bekal di tengah perjalanan. Rasanya tiada lagi aku kuasa untuk meneruskan perjalanan ini, kecuali dengan pertolongan Allah dan bantuan tuan. Karena itu, sudilah kiranya tuan menolong saya. Sudilah tuan merelakan seekor unta saja agar aku kembali dapat meneruskan perjalanan ini, demi Allah yang telah menganugerahi tuan kulit yang halus dan paras yang rupawan, serta harta kekayaan yang melimpah ruah,” kata malaikat.

“Wah, maaf, tanggungan yang harus aku bayar amat banyak.  Gaji karyawan, ongkos transportasi, promosi, produksi, dan banyak lagi. Aku tak ada budget untuk memberi sedekah kepada orang sepertimu,” kata laki-laki itu ketus.

“Maaf tuan, setahuku, aku pernah berjumpa dengan tuan saat tuan masih berpenyakitan, sekujur kulit tubuh tuan belang seperti kondisiku kini, sehingga banyak orang yang enggan bergaul dengan tuan. Lebih-lebih tuan juga miskin saat itu.  Kini, tuan berkulit halus dan bersih serta kaya raya dan terpandang di mata masyarakat karena dikaruniai rezeki oleh Allah Ta’ala,” jawab malaikat mencoba mengingatkan.

“Wah sembarangan engkau ngomong. Asal tahu, semua kekayaanku adalah karena hasil jerih payahku sendiri,” katanya sombong.

“Baik kisanak. Karena engkau telah mengingkari karunia dari Allah. Maka, ketahuilah, saat ini juga Allah akan menarik kembali semua kekayaan yang telah diberikan kepada engkau,” jawab malaikat.

Seketika, lenyaplah seluruh kekayaan laki-laki itu. Dan laki-laki itu kini kembali belang seluruh kulit tubuhnya. Lagi kembali miskin papa seperti dulu.

Kemudian, datanglah malaikat kepada laki-laki kedua. Malaikat menyaru sebagai laki-laki yang miskin dan botak kepalanya. Dan kemudian meminta bantuan sebagaimana yang dilakukan kepada laki-laki pertama. Ternyata sikap dan jawabannya sama. Laki-laki kedua pun menolak memberi bantuan, bahkan menyombongkan diri dengan kekayaannya, bahkan mengingkari semua kekayaannya sebagai karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akhirnya, Allah kembali menarik semua kekayaannya itu. Laki-laki kedua itu pun kembali botak kepalanya lagi miskin papa seperti keadaannya dulu.

* * *

Tibalah giliran malaikat mendatangi laki-laki ketiga. Malaikat menyaru seorang laki-laki yang miskin lagi buta matanya. “Permisi tuan. Perkenalkan, aku seorang musafir yang tengah kehabisan bekal. Tiada kuasa rasanya aku meneruskan perjalanan ini, kecuali dengan pertolongan Allah dan bantuan tuan. Karena itu, kiranya sudilah tuan mengikhlaskan seekor domba saja untuk bekalku meneruskan perjalanan yang masih amat jauh ini,” kata malaikat penuh iba.

Mendengar permintaan itu, laki-laki ketiga itu tersenyum. Wajahnya cerah penuh semburat kemurahan hati. “Tiada hentinya aku bersyukur kepada Allah Ta’ala yang telah memulihkan penglihatanku dan memberikan karunia-Nya yang amat melimpah kepadaku. Oleh karena itu, wahai kisanak, ambillah  sesuka hatimu domba yang engkau butuhkan untuk bekal perjalananmu. Aku sedikitpun tiada keberatan atas harta yang engkau ambil karena Allah..ambilah kisanak,” katanya lembut dan sopan.

Mendengar jawaban itu, malaikat kemudian berseru. “Wahai laki-laki yang shalih dan pandai bersyukur! Peliharah baik-baik harta kekayaanmu ini. Ketahuilah, sesungguhnya aku ini malaikat yang diutus-Nya untuk menguji kalian, sejauh mana kalian mensyukuri nikmat karunia-Nya. Atas sikapmu yang terpuji, Allah ridha kepadamu dan murka kepada kedua kawanmu itu.”

Semoga kisah ini membangunkan jiwa dan kesadaran kita untuk mau mensyukuri setiap apapun karunia Allah yang dititipkan kepada kita. Aamiin.* (Diceritakan kembali oleh Kang Asti, www.perspektifislam.com)

 

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *