Bolehkah Wanita Haid Membaca Al-Quran?

Assalamu’alaikum, saya Liyana ingin bertanya bagaimana hukum seorang wanita yang sedang haid jika menghafal surat-surat dan membaca ayat Al-Quran tanpa menyentuh mushafnya. Seperti membaca Al-Quran di LKS, kertas, dan lembar soal. Terima kasih.

Hukum membaca Al-Quran bagi wanita yang sedang haid merupakan perkara yang diperselisihkan oleh para ulama. Bila dipetakan, secara garis besar para ulama terbagi setidaknya dalam dua kelompok. Kelompok pertama berpendapat haram wanita yang sedang haid membaca Al-Quran, baik dengan cara melihat Al-Quran (dengan menyentuhnya atau tidak) atau pun yang sudah dihafalnya.

Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari menyatakan “Diharamkan bagi yang haid dan nifas segala yang diharamkan bagi orang yang junub seperti shalat, thawaf, sujud tilawah, sujud syukur, khutbah Jum’at, menyentuh Al-Quran, berhenti dalam masjid, dan membaca Al-Quran yang diqashadkan Al-Quran. (Sabilal Muhtadin, Jilid 1, hlm. 282).

Dalil haramnya membaca Al-Quran ialah sabda Nabi Muhammad Saw, “Orang yang junub dan haid tidak boleh membaca sebagian dari Al-Quran.” Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Tetapi hadits ini dha’if (lemah), sebagaimana tersebut di dalam Syarah Al-Muhadzdzab.  (Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Alhusaini, Kifayatul Akhyar Jilid 1, hlm. 168).

Sedangkan membaca Al-Quran bagi wanita haid jika dengan mata atau dalam hatinya saja tanpa diucapkan dengan lisan, maka tidak apa-apa hukumnya. Misalnya mushaf atau lembaran Al-Quran diletakkan lalu matanya menatap ayat-ayat seraya hatinya membaca. Menurut an-Nawawi dalam kitab Syarah Muhadzdzab hal ini boleh tanpa ada perbedaan pendapat. (Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Darah Kebiasaan Wanita, hlm. 24).

Kelompok kedua berpendapat boleh wanita haid membaca Al-Quran. Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim dalam Fiqhus Sunnah Lin Nisa’ (hlm. 113-114) menyatakan, dzikir dan membaca Al-Quran itu boleh dikerjakan oleh wanita haid dan orang yang junub berdasarkan pendapat yang kuat. Mengutip pernyataan Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla, “Membaca Al-Quran, melakukan sujud tilawah, menyentuh mushaf, dan dzikir mengingat Allah itu adalah perbuatan-perbuatan yang baik, orang disunahkan untuk mengerjakannya, dan orang yang mengerjakannya akan mendapatkan pahala. Oleh karena itu, siapa saja yang mendakwakan adanya larangan melakukan perbuatan itu pada beberapa keadaan tertentu, maka dia harus menyampaikan dalilnya.”

Sejauh yang saya tahu, titik krusial yang menjadi perbedaan pendapat  adalah pada derajat hadits-hadits yang berisi larangan membaca Al-Quran bagi orang yang junub dan haid. Hadits-hadits itu semuanya dinyatakan dhaif. Sehingga menurut kelompok yang membolehkan wanita haid membaca Al-Quran, hadits-hadits itu tidak bisa dijadikan hujjah dan tidak boleh melarang wanita haid membaca Al-Quran hanya berdasarkan hadits-hadits  yang tidak shahih itu.

Lalu bagaimana menyikapi perbedaan itu? Kiranya pendapat Syeikh Ibnu Utsaimin bisa dijadikan pegangan. Dalam bukunya Darah Kebiasaan Wanita, beliau berpendapat, “Setelah mengetahui perbedaan pendapat di antara para ulama, seyogyanya kita katakan, lebih utama bagi wanita haid tidak membaca Al-Quran secara lisan, kecuali jika diperlukan. Misalnya, seorang guru wanita yang perlu mengajarkan membaca Al-Quran kepada siswi-siwinya, atau seorang siswi yang pada waktu ujian perlu diuji dalam membaca Al-Quran, dan lain sebagainya.”

Riwayat dari Imam Syafi’i dan Imam Malik memperbolehkan seorang wanita haid membaca Al-Quran bila takut lupa atau memang pekerjaannya mengajarkan atau menghafal Al-Quran, atau mungkin seorang wanita yang sedang berargumentasi sehingga harus menggunakan ayat-ayat Al-Quran sebagai dalil. Demikian juga memperbolehkan membaca ayat-ayat pendek yang tujuannya untuk dzikir, seperti membaca basmalah ketika hendak makan dan minum, dan membaca hamdalah ketika selesai dan lain sebagainya. Wallahu a’lam. Semoga jawaban ini bermanfaat.* (Kang Asti, www.perspektifislam.com)

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *