Hukum Hewan Pemakan Kotoran

Kalau ikan lele disebut hewan pemakan kotoran (jalalah) bagaimana? Apa masih tetap halal?

Pertanyaan di atas diajukan setelah penanya membaca jawaban saya terkait hukum mengonsumi ikan lele. Ikan lele halal berdasarkan keumuman dalil hadits yang menyebut halalnya semua binatang yang hanya hidup di air. Lalu bagaimana bila ikan lele disebut hewan pemakan kotoran atau dalam term fiqh disebut jallaalah? Apalakah masih tetap halal?

Antara hukum mengonsumsi ikan lele dan hukum mengonsumsi hewan pemakan kotoran adalah dua pembahasan yang berbeda. Pembahasan tentang hukum mengonsumsi ikan lele bisa disimak di jawaban saya, klik Benarkah Ikan Lele Haram Dikonsumsi?

Adapun hukum mengonsumsi hewan pemakan kotoran, para ulama ahli fiqh berbeda pendapat, baik soal definisi maupun status hukum mengonsumsinya. Imam Taqiyuddin Abubakar bin Muhammad Alhusaini dalam Kifayatul Akhyar menyatakan, jallaalah adalah binatang yang sebagian besar makanannya adalah kotoran. Sementara yang lainnya menyatakan, yaitu binatang yang memakan kotoran manusia ataupun kotoran-kotoran yang lain secara mutlak.

Jika dalam keringatnya dan lainnya terdapat bau najis, maka binatang itu dinamakan jallaalah, dan kalau tidak, maka tidak terkategori jallaalah. Demikian yang dibenarkan Imam Nawawi di dalam tambahan kitab Ar-Raudhah. Dan yang dikatakannya di dalam At-Tahrir bahwa yang dijadikan pertimbangan  ialah kebanyakan makanannya. Kalau sebagian besar makanannya  berupa barang najis, maka dinamakan jallaalah; dan kalau tidak, berarti bukan.

Abdul Wahab Abdussalam Thawilah dalam Fikih Kuliner menguraikan perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait binatang yang terkategori jallaalah. Para ulama Madzhab Hanafi dan Ibnu Hazm membatasinya hanya pada binatang berkaki empat, seperti onta, sapi, dan khususnya kambing. Jadi, jallaalah tidak termasuk pada unggas dan ikan. Dalilnya adalah sebuah hadits shahih yang diriwatakan dari Abu Musa ra tentang dihalalkannya ayam, meskipun memakan kotoran. Mereka berargumentasi, kotoran atau benda najis yang dimakan ayam telah bercampur dengan benda lainnya. Selain itu, benda najis tersebut hancur dan tidak mengakibatkan perubahan pada daging.

Adapaun para ulama Madzhab Syafi’i dan Hambali cenderung  memukul rata semua binatang yang bisa dikonsumsi, baik binatang ternak maupun bangsa burung, seperti ayam, itik, dan sebagainya yang makan biji-bijian. Bahkan, ikan yang hidup di comberan dan makan benda-benda najis.

Dua pendapat itu bisa dikompromikan dengan melihat dari sisi dampak yang ditimbulkan dari memakan kotoran, yakni pada perubahan bau dan rasa daging. Sebagainamana yang dinyatakan oleh Syekh Musthafa Az-Zarqa, “Dengan kacamata fiqh, ayam dan semacamnya hanya menjadi pemakan kotoran jika sebagian besar atau seluruh  yang dimakannya adalah benda najis. Dengan begitu, dagingnya akan busuk dan beraroma tak sedap. Sedangkan bila dicampur dengan makanan suci yang lain, apalagi dagingnya tidak busuk, tidaklah dimakruhkan mengonsumsinya. Jadi, yang perlu diperhatikan adalah kondisi daging, bukan sekedar apa yang dimakan binatang tersebut. Sebab, sekedar makan benda najis tidaklah menjadikan daging binatang tersebut haram atau makruh dikonsumsi.”

Hukum mengonsumsi dagingnya

Berdasarkan hadits dari Ibnu Umar, ia berkata, “Rasulullah Saw melarang dari memakan al-jullalah dan susunya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi).

Para ulama berbeda pendapat soal larangan mengonsumsi binatang yang terkategori jallaalah. Apakah larangan itu diharamkan atau dimakruhkan? Sebagian ulama mengharamkannya. Sebagian ulama lainnya menyatakan makruh. Imam Nawawi menyatakan makruh tanzih. Namun secara eksplisit larangan ini menunjukkan pengharaman.

Syaikh Shiddiiq Hasan Khaan dalam Fiqih Islam menyatakan, alasan pengharamannya adalah perubahan pada daging dan susunya, apabila alasan tersebut telah hilang—yang menyebabkan adanya larangan memakan hewan tersebut hingga hilangnya bekas—maka tidak ada lagi sisi pengharaman, karena hewan tersebut telah diyakini halal. Hewan tersebut diharamkan karena adanya penyebab dan penyebabnya telah hilang.

Syeikh Muhammad bin Abdurrrahman Ad-Dimasyqi dalam Fiqih Empat Madzhab menyatakan, para imam madzhab sepakat, binatang yang memakan kotoran apabila dikarantina terlebih dahulu, lalu diberikan makanan yang bersih sehingga hilang bau najisnya, maka menjadi hilang kemakruhannya untuk dimakan dagingnya.

Dikatakan oleh para ulama ahli fiqih bahwa lama masa karantina untuk unta dan sapi adalah 40 hari, untuk kambing 7 hari, dan untuk ayam 3 hari.

Menurut para ulama Madzhab Syafi’i, tidak ada batasan waktu. Sebab, makruhnya disebabkan perubahan bau. Maka, yang dijadikan patokan, adalah sampai diperkirakan bau benda najis tersebut hilang. Jika dikarantina setelah tercium bau tak sedap. Lalu diberi makan benda suci, kemudian baunya hilang, dagingnya membaik, makanya disembelih, sama sekali tidak makruh. Berdasarkan kebanyakan pengalaman, diperkirakan 40 hari untuk keledai, 30 hari untuk sapi, 7 hari untuk domba, dan 3 hari untuk ayam.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hukum mengonsumsi daging hewan jallaalah adalah haram, atau setidaknya makruh. Diperbolehkan mengonsumsi hewan pemakan kotoran adalah jika bau najis sudah hilang setelah diberi makan benda suci. Adapun membatasi waktu memberi makan seperti 40 hari, 30 hari, 7 hari, 3 hari dan semisalnya, hanya menurut kebiasaan saja.

Nah, apabila dikaitkan dengan pertanyaan status hukum ikan lele yang dikategorikan sebagai binatang pemakan kotoran (jallaalah), maka dapat dijawab sebagai berikut:

  • Lele bisa menjadi jallaalah, yang kita dilarang mengonsumsinya, bila ikan lele tersebut sebagian besar makanannya adalah kotoran atau benda najis, yang itu mengubah bau dan rasa dagingnya. Bila tidak berubah, maka tidak haram atau tidak makruh.
  • Bila ikan lele tersebut benar-benar terkategori jallaalah dengan indikasi baunya yang berbau benda najis, maka untuk dapat dikonsumsi harus melalui proses al-istihalah (perubahan) melalui karantina dan pemberian makan makanan yang bersih dan baik, sampai bau najis tersebut dipastikan hilang.

Wallahu a’lam. Semoga uraian ini bermanfaat.* (Kang Asti, www.perspektifislam.com)

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *