Benarkah Saat Haid Tidak Boleh Keramas dan Memotong Rambut?

Assalamu’alaikum pak ustad…Mau tanya, ada tuntunannya gak sih kenapa kalau saya lagi dapet (menstruasi) katanya gak boleh keramas dan bagian rambut yang rontok harus diikutsertakan saat keramas setelah selesai masa haid saya. Terima kasih.

Haid atau menstruasi merupakan siklus rutin bulanan yang dialami oleh perempuan normal yang sudah baligh. Saat seorang muslimah sedang haid, ia terlarang melakukan beberapa hal seperti yang termaktub dalam nash, baik Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Larangan-larangan itu terbagi menjadi dua; yakni larangan yang disepakati oleh para ulama dan larangan yang masih diperselisihkan oleh para ulama.

Larangan-larangan bagi wanita haid yang disepakati ulama adalah: dilarang shalat dan tidak wajib mengqadhanya; dilarang berpuasa dan wajib mengqadhanya; dilarang melakukan jima’ atau berhubungan seksual; dilarang thawaf (mengelilingi ka’bah), dan dilarang dicerai. Sedang perkara yang diperselisihkan atau diperdebatkan oleh para ulama adalah: membaca Al-Qur’an,  memegang Al-Qur’an, dan berdiam di masjid.

Adapun larangan berkeramas saat haid yang berkembang di kalangan kaum muslimin tidak ada dasarnya sehingga tidak benar. Boleh dikatakan larangan tersebut hanyalah mitos karena tidak ada nash yang menjadi sandaran dalilnya.

Dalam Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin disebutkan, Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya, apa hukumnya mencuci kepala (baca: berkeramas) bagi wanita yang sedang mendapatkan haid, karena sebagian orang mengatakan bahwa hal itu tidak dibolehkan? Maka, Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab, “Dibolehkan bagi wanita haid mencuci kepalanya di tengah masa haidnya, sedangkan pendapat yang mengatakan tidak dibolehkan melakukan hal itu adalah tidak benar dan tidak memiliki dasar. Jadi, dibolehkan bagi wanita haid untuk mencuci kepalanya dan seluruh tubuhnya.”

Dari sudut medis pun, larangan berkeramas saat haid juga tidak berdasar dan tidak dibenarkan. Alangkah lecek-nya bila wanita haid tidak boleh keramas semasa haid. Sedang saat haid seorang muslimah harus tetap tampil bersih agar dalam masa menjalani haidnya tetap bersemangat mengail pahala dari amal-amal lainnya yang diperbolehkan, seperti dzikrullah, membaca buku, hadir di majelis ilmu, menghadiri shalat idul fitri atau idul adha, dan sebagainya.

Hanya saja yang perlu menjadi catatan, niat keramasnya haruslah semata niat untuk membersihkan tubuh agar bersih, dan tidak boleh berniat untuk menghilangkan hadas karena ia belum selesai dari haidnya.

Kemudian, haruskah rambut yang rontok akibat disisir atau akibat dipotong disimpan dan ikut dicuci saat mandi besar?  Hal ini pun tidak ada dasarnya, sehingga tidak benar. Rambut yang rontok saat haid tidak perlu dicuci ketika selesai haid atau mandi besar karena tidak ada nash yang memerintahkan.

Ainul Millah dalam Darah Kebiasaan Wanita (2013, hlm. 73) menyatakan, “Diperbolehkan wanita haid memotong kuku, menyisir rambut, dan memotong rambut karena tidak ada dalil yang melarang dan juga tidak perlu mencuci potongan rambut atau kuku ketika selesai haid atau mandi karena juga tidak ada nash yang memerintahkan. Adapun yang diperintahkan adalah mandi.” Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.* (Kang Asti, www.perspektifislam.com)

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *