Apakah Bersentuhan dengan Suami Membatalkan Wudhu?

Ilustrasi: vebma.com

Kalau sudah punya wudhu dan mau shalat, boleh nggak pegang suami?

Maksud dari penanya barangkali dapat diperjelas dengan pertanyaan ‘apakah bersentuhan dengan suami membatalkan wudhu?’  Terkait persoalan ini, terjadi silang pendapat di kalangan ulama fiqh lintas madzhab. Karenanya, penting dipahami sebelumnya, agar persoalan ini tidak diperuncing, sehingga perbedaan pendapat (dan lalu pendapat mana yang diikuti) tidak menjadi sumbu pertikaian yang mengganggu ukhuwah di kalangan kaum muslimin. Sebab tiap pendapat para ulama madzhab tentu sudah melalui proses istimbath ahkam (proses pengambilan kesimpulan hukum) dengan metode yang telah dirumuskan oleh para mujtahid yang kompeten dan memililiki otoritas di bidangnya.

Bila dipetakan, para ulama fiqh terbagi ke dalam tiga pendapat. Pendapat pertama dari kalangan madzhab Syafi’i menyatakan batalnya secara mutlak bersentuhannya kulit laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, baik sengaja maupun tidak, baik dengan syahwat atau tidak, dengan syarat tidak ada penghalang. Bila ada penghalang, baik tebal maupun tipis, maka tidak batal.

Pendapat kedua dari kalangan madzhab Maliki dan Hambali menyatakan menyentuh perempuan membatalkan wudhu kalau disertai dengan syahwat, tetapi kalau tidak disertai syahwat tidak membatalkan wudhu.

Pendapat ketiga dari kalangan madzhab Hanafi menyatakan tidak batalnya secara mutlak bersentuhannya kulit laki-laki dan perempuan, baik disertai syahwat maupun tidak.

Titik krusial yang menjadi simpul perbedaan pendapat di kalangan ulama lintas madzhab tersebut adalah pada penafsiran atas dalil yang menjadi sandaran pada persoalan tersebut, yakni surat An-Nisa’ ayat 43: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan (au lamastumun nisa-a), kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Perbedaan dalam menafsirkan kalimat “au lamastumun nisa-ainilah yang menjadi pangkal perbedaan tersebut. Imam Syafi’i rahimahullah berargumentasi dengan zhahir ayat di atas. Menurut beliau, kata ‘lamasa’, pada asalnya adalah berarti menyentuh dengan tangan, sementara ‘lamasa’ dengan arti jima’ atau bersetubuh adalah kinayah. Padahal, menutut kaidah dasar, suatu kata harus diartikan menurut makna hakikat, dengan kata lain ia tidak boleh dipindahkan pada arti majas, kecuali memang mengartikan secara hakikat tidak memungkinkan. Dan ini diperkuat dengan suatu bacaan “au lamastumun nisa-a” dengan lam pendek, yang membawanya kepada arti hakikat, yaitu betul-betul menyentuh.

Sehingga dengan argumentasi ini, Madzhab Syafi’i menyatakan, bersentuhannya kulit laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, tanpa penghalang, baik sengaja maupun tidak, baik disertai syahwat atau tidak, ia membatalkan wudhu secara mutlak. Pendapat inilah yang paling masyhur di Indonesia, karena kaum muslimin Indonesia sebagian besar mengikuti Madzhab Syafi’i.

Adapun Abu Hanifah menafsirkan kalimat “au lamastumun nisa-a sebagai kinayah (makna kiasan) dari jima’ atau bersetubuh sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Kata ‘lamasa’, yang artinya menyentuh, meskipun pada mulanya berarti menyentuh dengan tangan, tetapi dalam Al-Qur’an sering pula kata itu ditampilkan sebagai kinayah. Misalnya, ayat “Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu sentuh mereka (QS. Al-Baqarah: 237)” dan “Sebelum mereka berdua (suami-istri) itu bersentuhan” (QS. Al-Mujadilah: 3).”

Dengan argumentasi ini, Madzhab Hanafi menyatakan, bersentuhannya kulit laki-laki dan perempuan, baik disengaja maupun tidak, baik disertai syahwat atau tidak, ia tidak membatalkan wudhu secara mutlak. Argumentasi ini diperkuat dengan dalil-dalil dari sunnah nabawiyah, sebagai berikut:

Pertama; Hadits Aisyah ra,beliau berkata, “Aku kehilangan Rasulullah Saw dari kasurku pada suatu malam, lalu aku mencarinya, lantas tanganku menyentuh telapak kaki beliau, ketika beliau sedang berada di masjid. Kedua telapak kaki itu tegak, dan saat itu beliau berdoa, ‘Wahai Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan-Mu dari kemurkaan-Mu, ampunan-Mu dari siksa-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu Diri-Mu, aku tidak dapat menghitung pujian atas-Mu, Engkau sebagaimana Engkau memuji Diri-Mu sendiri’.” (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan selain mereka).

Kedua; Dari Aisyah ra, beliau berkata, “Aku tidur di hadapan Rasulullah Saw, kedua kakiku berada di arah kiblat beliau. Apabila beliau bersujud, beliau menyentuhku maka aku melipat kedua kakiku. Apabila beliau berdiri, maka aku menghamparkan kembali kedua kakiku itu. Aisyah berkata, ‘rumah-rumah pada waktu itu tidak ada lampunya’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim dalam Fiqhus Sunnah Lin Nisa’ (hlm. 66) menyatakan, pada dua hadits ini jelas bahwa Nabi Saw menyentuh Aisyah ra, tetapi beliau tetap menyempurnakan shalat beliau. Ini menjadi dalil bahwa menyentuh perempuan itu tidak membatalkan wudhu.

Ketiga, diriwayatkan juga dari Aisyah, beliau berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Saw pernah  mencium salah seorang istrinya, kemudian keluar (ke masjid) untuk shalat, dan tidak berwudhu lagi.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i).

Syekh Sayyid Sabiq dalam kitab monumentalnya Fiqih Sunnah (jilid 1, hlm.55) menukil sebuah riwayat, dari Aisyah ra menyebutkan bahwa Rasulullah pernah menciumnya ketika berpuasa. Beliau bersabda, “Ciuman tidak membatalkan wudhu dan tidak membatalkan puasa.” (HR. Ishaq bin Rahuyah). Bazzar juga meriwayatkan dengan sanad yang bagus. Abdul Haq mengatakan bahwa hadits ini tidak memiliki cacat, jadi tidak ada alasan untuk mengabaikannya.

Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam Tafsir Ayat-ayat Ahkam (Jilid 1, hlm. 506) menyatakan, “Barangkali pendapat inilah (sentuh dalam arti jima’) yang lebih kuat, karena pendapat inilah yang memungkinkan untuk mengompromikan antara ayat tersebut dengan riwayat-riwayat yang berkaitan. Lain dari itu, adalah sudah lumrah apabila kata ‘massa’ kalau dihubungkan dengan perempuan, berarti jima’, sehingga hampir-hampir arti ini sudah menjadi zhahir (hakikat). Seperti halnya kata ‘wath’un’ yang arti asalnya adalah berjalan. Akan tetapi kalau kata ini dihubungkan dengan perempuan, maka ia tidak dapat dipahami dengan arti lain selain jima’. Wallahu a’lam.”

Dari uraian di atas, bagi saya pribadi pendapat yang menyatakan bahwa bersentuhannya kulit laki-laki dan perempuan tidak membatalkan wudhu lebih kuat daripada pendapat yang membatalkannya. Namun, sebagai langkah hati-hati, saya pribadi mengompromikan dua pendapat yang berlawanan tersebut dengan mengikuti pendapat (Madzhab Maliki dan Hambali) yang menyatakan bahwa bersentuhannya kulit laki-laki dan perempuan yang bukan mahram membatalkan wudhu bila disertai dengan syahwat. Bila tanpa syahwat, maka tidak membatalkan wudhu. Hal ini sesuai dengan riwayat-riwayat bersentuhannya Nabi dengan istrinya yang memang tanpa disertai dengan syahwat, sehingga beliau Nabi tidak mengulang wudhunya. Wallahu a’lam. Semoga penjelasan ini bermanfaat.* (Kang Asti, www.perspektifislam.com)

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *