Benarkah Ada Ulama yang Membolehkan Seks Anal?

Ilustrasi: google image

Saya pernah membaca sebuah situs yang di dalamnya dinyatakan ada ulama yang berpendapat bahwa anal sex itu tidak haram, benarkah? Apakah itu berarti anal sex diperbolehkan? Mohon penjelasannya. Trima kasih…

Seks anal atau anal sex adalah tindakan yang biasanya mengacu pada tindakan seks yang melibatkan masuknya penis ke dalam anus/dubur pasangan seksual. Tidakan seks ini sering dipahami secara umum dikaitkan dengan perilaku yang dilakukan hampir secara eksklusif oleh laki-laki gay. Padahal seks anal tidak jarang dilakukan oleh pasangan heteroseksual. Lalu, bagaimana hukum seks anal dalam perspektif hukum Islam?

Sejauh penelusuran saya, tidak ada satu pun ulama yang membolehkan seks anal. Namun pendapat yang tidak mengharamkan seks anal saya temui pada literatur kalangan Syi’ah. Meski tidak mengharamkan, namun mereka tidak serta merta membolehkannya. Menurut mereka, seks anal sebatas dimakruhkan atau dibenci.

Lea Zaitoun dalam artikelnya Isu-isu Seksual dalam Islam menyebutkan, dalam masalah seks anal, mayoritas mujtahid (dari kalangan Syi’ah tentu saja–pen) berpendapat:

  • Seks anal tidak haram namun sangat dibenci (karahatan syadidah, makruh mendekati haram), dan harus seizin istri.
  • Bila istri tidak mengizinkan, adalah wajib, demi kehati-hatian, untuk menjauhinya (seks anal).

Ayatullah Sayyid Ali Khamenei  menyatakan bahwa seks anal tidak haram namun sangat dibenci (karahatan syadidah), dan demi kehati-hatian, harus seizin istri. Bahkan menurutnya, seks anal dapat menjadi haram bila hal itu menyakiti si istri.

Ayatullah Khu’i menyatakan wajib, demi kehati-hatian, untuk tidak melakukan seks anal, tak peduli apakah istri menyetujuinya atau tidak.

Bila kalangan Syi’ah tidak sampai mengharamkan, sebatas memakruhkan, berbeda dengan para ulama ahlus sunnah yang sepakat bulat mengharamkan praktik anal seks secara mutlak. Dalam pandangan ahlus sunnah, mendatangi dubur wanita atau melakukan seks anal haram hukumnya berdasarkan nash Al-Qur’an. Bahkan dianggap sebagai salah satu dosa besar, seperti yang tersirat dalam beberapa hadits.

Dalam Al-Qur’an disebutkan, “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki….” (QS. Al-Baqarah: 223).

Dalam Tafsir Jalalain karya Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti disebutkan, Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam maknanya adalah tempat menanam kalian untuk mendapatkan anak.  Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu maknanya adalah datangilah pada tempatnya, yakni pada tempat untuk mendapatkan anak, yaitu pada qubul atau vagina. Lalu lafad anna (bagaimana saja) maknanya adalah dengan cara apa saja. Kamu kehendaki maknanya adalah yang kamu inginkan, baik dengan cara berdiri, duduk, tiduran, dari arah depan maupun dari arah belakang. Ayat ini untuk membantah pernyataan orang Yahudi yang mengatakan bahwa barangsiapa yang mendatangi qubul/vagina istrinya dari arah belakang, maka anaknya nanti akan lahir dalam kondisi matanya juling.

Penggalan “untuk membantah pernyataan orang Yahudi…” hingga akhir redaksi, mengisyaratkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Jabir ra yang berkata: Seorang wanita Yahudi berkata, “Jika suami menyetubuhi istrinya dari arah belakang, maka anaknya akan lahir dalam keadaan matanya juling,” maka turunlah ayat , “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam…”

Ayat ini secara eksplisit menyatakan bolehnya menyetubui istri dengan cara apa pun, baik dari depan maupun belakang, asal yang dituju adalah vagina istri. Yang dilarang adalah menyetubuhi dubur istri.

Sebuah riwayat menyebutkan, Umar pernah bertanya kepada Nabi Saw: “Wahai Rasulullah, aku telah binasa.” Rasulullah Saw bertanya, “Apakah yang membinasakanmu?” Umar menjawab, “Tadi malam aku memutar kendaraanku (kalimat kiasan dengan maksud menyetubuhi istri dari belakang)”. Maka Nabi tidak menjawab sedikit pun sehingga turun ayat di atas (QS. Al-Baqarah: 223). Lalu beliau bersabda kepadanya, “Setubuhilah dari depan atau dari belakang, dan hindarilah  pada waktu haid dan di dubur.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Rasulullah Saw juga bersabda, “Terlaknatlah suami yang mendatangi dubur istrinya.” (HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud).

Ibnu Abbas ra berkata, “Pada hari kiamat nanti Allah tidak akan melihat orang yang menyetubuhi binatang atau mendatangi istrinya pada duburnya.” (HR. An-Nasa’i).

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra bahwa seorang laki-laki bertanya kepadanya, “Apakah aku boleh mendatangi istriku di mana aku mau, di tempat yang aku mau, dan dengan cara apa saja yang aku mau?” Ibnu Mas’ud ra berkata, “Benar!” Lalu ada seseorang yang menatap orang itu lalu berkata kepada Ibnu Mas;ud, “Yang dia maksudkan adalah pada dubur istrinya.” Kemudian Ibnu Mas’ud berkata, “Dubur istri kalian diharamkan atas kalian.” (HR. Ibnu Abu Syaibah).

Dari nash Al-Qur’an, hadits Rasulullah Saw maupun atsar sahabat di atas menunjukkan secara tegas dan valid atas keharaman anal seks. DR. Abdullah Al-Faqih dalam Fiqih Jima’ (hlm. 55) menyatakan, barangsiapa yang mendatangi dubur istrinya, berarti telah melakukan dosa besar dan keduanya—suami dan istri—wajib mandi disertai dengan tobat, istighfar, dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi karenanya adanya larangan di atas. Wallahu a’lam. Semoga uraian ini bermanfaat.* (Kang Asti, www.perspektifislam.com)

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

One Comment on “Benarkah Ada Ulama yang Membolehkan Seks Anal?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *