Benarkah Ikan Lele Haram Dikonsumsi?

Saya pernah mendengar ada kalangan yang mengharamkan ikan lele karena termasuk ikan yang tidak bersisik. Mohon penjelasan tentang hal itu, karena lele termasuk ikan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat muslim Indonesia. Terima kasih.

Lele adalah sejenis ikan yang hidup di air tawar. Lele mudah dikenali karena tubuhnya yang licin tak bersisik, agak pipih memanjang, serta memiliki “kumis” yang panjang, yang mencuat dari sekitar bagian mulutnya.

Banyak jenis lele yang merupakan ikan konsumsi yang disukai orang. Sebagian jenis lele telah dibiakkan orang, namun kebanyakan spesiesnya ditangkap dari populasi liar di alam. Lele dumbo yang populer sebagai ikan ternak di Indonesia, sebetulnya adalah jenis asing yang didatangkan atau diintroduksi dari Afrika.

Lele termasuk ikan yang dijadikan olahan makanan yang sangat populer, di antaranya adalah pecel lele. Pecel lele adalah salah kuliner yang sudah merakyat dan dikenal sebagai masakan khas Jawa. Pecel lele terdiri dari ikan lele yang digoreng kering dengan minyak, lalu disajikan dengan sambal tomat dan lalapan. Lalapannya biasanya terdiri dari kemangi, mentimun, dan kubis atau kol.

Pada perkembangannya, para wirausahawan muda di bidang kuliner menawarkan sensasi kuliner dengan menyajikan aneka kreasi olahan lele dengan penyajian yang lebih modern. Seperti Pecel Lele Lela dengan aneka kreasi olahan lele yang cukup kreatif dan sudah banyak memiliki outlet di berbagai kota, atau di Jawa Tengah ada rumah makan yang menyajikan paket Lele Terbang, yang juga memiliki banyak cabang di sejumlah kota.

Pecel Lele Sarang Tawon, salah satu kreasi olehan kuliner ikan lele (Sumber: mirfagah.com)

Pertanyaannya, benarkah mengonsumsi ikan lele haram dengan alasan karena termasuk ikan yang tidak bersisik?

Sejauh yang saya tahu, pengharaman mengonsumsi ikan lele karena termasuk ikan yang tidak bersisik berasal dari kalangan Syi’ah. Sayyid M.H. Thabathaba’i (ulama Syiah) menyatakan, “Dari binatang-binatang laut dan air tawar, hanya burung-burung air dan ikan yang bersisik saja yang boleh dimakan. Binatang-binatang yang lain seperti belut, ikan kaviar, kura-kura, anjing laut, dan ikan lumba-lumba, tidak boleh dimakan.” (Inilah Islam, Pustaka Hidayah: hlm. 221).

Lele termasuk ikan yang tidak bersisik. Karenanya ikan lele tentu termasuk ikan yang diharamkan oleh kalangan Syi’ah. Soal haramnya lele, Jalaluddin Rakhmat, salah satu tokoh Syi’ah di Indonesia, menyatakan, “Hewan-hewan air yang tidak bersisik, seperti lele, tidak boleh dimakan. Saya sekarang tidak memakan ikan lele padahal dulu kesenangan saya. Cumi-cumi tidak bersisik. Ikan-ikan yang tidak bersisik, menurut mazhab Ja’fari, haram.” (Jalaluddin Rakhmat Menjawab Soal-soal Islam Kontemporer: hlm. 166).

Namun kaedah pengharaman itu tidak dikenal dalam literatur di kitab-kitab ulama Sunni. Ulama-ulama ahlussunnah sepakat akan halalnya semua ikan yang hidup di air. Mereka hanya berbeda pendapat terkait hewan air yang tidak berwujud ikan sebagaimana yang dikenal seperti babi laut, anjing laut, kuda laut, dan sebagainya.

Para ulama mazhab Hanafi, Imam Ahmad, dan para ulama mazhab Syafi’i dalam sebuah riwayatnya berpendapat bahwa hanya ikan saja yang halal dikonsumsi di antara binatang laut. Dan diharamkan semua jenis binatang yang tidak memiliki kesamaan bentuk dengannya. Namun mayoritas ulama, antara lain para ulama mazhab Maliki dalam sebuah pendapat yang mereka unggulkan, para ulama mazhab Syafi’i dalam salah satu pendapat yang mereka nilai shahih, para ulama mazhab Hambali dalam sebuah pendapatnya yang mereka nilai shahih, dan Laits bin Sa’ad, berpendapat bahwa semua binatang laut boleh dikonsumsi. Semua yang hanya hidup di air, jika sudah mati, tetap halal dalam keadaan apapun.

Menurut mayoritas ulama, sebutan “ikan” disandangkan pada semua yang hanya hidup di air, termasuk anjing laut, babi laut, bahkan orang laut, dan sebagainya. Semuanya adalah ikan dengan jenis yang beraneka ragam. Jadi, binatang laut yang diharamkan hanyalah yang membahayakan kesehatan, seperti ikan yang beracun dan sebagainya. (Fikih Kuliner: hlm. 157-162).

Ulama kontemporer Dr. Yusuf Qaradhawi menjelaskan, binatang laut –yakni binatang yang hidup dalam air—semuanya halal, di mana pun dia berada, baik yang diambil dari dalam air dalam keadaan hidup maupun sudah menjadi bangkai, baik terapung maupun tidak terapung, baik berupa ikan maupun binatang lain seperti anjing laut, babi laut, atau lainnya, terlepas apakah yang menangkapnya itu muslim ataupun non-muslim.

Lebih jauh Qaradhawi menyatakan, Allah memberikan keleluasaan kepada hamba-hamba-Nya dengan memperbolehkan semua binatang laut, tanpa mengharamkan suatu jenis tertentu, dan tanpa mensyaratkan penyembelihan seperti halnya binatang lainnya. Bahkan Allah menyerahkan sepenuhnya kepada manusia untuk membunuh dan mempergunakannnya sesuai dengan keperluannya, dengan tidak menyakitinya sedapat mungkin. Allah berfirman:
“Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan).” (QS. An-Nahl: 14).

Firman-Nya lagi:
“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan.” (QS. Al-Maidah: 96).

Allah memberlakukan firman-Nya ini secara umum dan tidak ada yang dikhususkan sama sekali. (Halal dan Haram: hlm. 57-58).

Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari menjelaskan, “Semua binatang air ialah yang tidak hidup terkecuali di dalam air, maka halal dimakan, atau juga dapat hidup di darat tetapi tidak lama, baik dari jenis ikan seperti yang sudah dikenal atau lainnya, baik dagingnya timbul atau tenggelam, sekalipun bentuknya menyerupai binatang darat yang haram dimakan seperti bentuk anjing, babi, dan sebagainya. Maka, halal dimakan tanpa melihat kepada cara matinya, terkecuali kalau mempunyai racun seperti ikan buntal atau merusak kesehatan, baik tubuh atau akal.” (Kitab Sabilal Muhtadin Jilid 2: hlm. 1122).

Dari paparan di atas, menjadi jelas tanpa keraguan lagi, lele termasuk jenis ikan yang hidup di air, yang karenanya status hukumnya halal dikonsumsi, sebagaimana kesepakatan ulama ahlussunnah, tanpa terkecuali. Wallahu a’lam.* (Kang Asti, www.perspektifislam.com).

 

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

One Comment on “Benarkah Ikan Lele Haram Dikonsumsi?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *