H. Ishadi, Sepulang Umrah Terbebas dari Lilitan Utang Miliaran Rupiah

Namanya pedagang, ada kalanya untung, ada kalanya merugi. Tetapi, kerugian yang saya alami pada 1989 memang terlalu parah. Saya tekor bahkan sampai berutang miliaran rupiah. Sebagai pedagang yang sudah lama—sejak 1972—main di bisnis komoditas  saya punya banyak kawan. Mereka bersimpati melihat saya jatuh seperti itu. Banyak yang kasihan, mengira saya stres. Bahkan ada yang khawatir saya akan bunuh diri. Kawan-kawan saya pedagang keturunan Tionghoa, berdatangan ke rumah menghibur saya. Padahal saya sendiri tidak apa-apa.

H. Ishadi (sumber: http://yanaprima.com)

Salah satu kenalan saya, Pak Mulyadi,  saat masih asisten II Sekwilda (mantan pembantu Gubernur Jatim), mengajak saya menemui  Habib Shaleh di Magelang. Dia salah seorang mursyid sebuah aliran tarekat. Namanya ajakan positif, tak ada salahnya saya ikuti saran dia. Kami berada di Magelang bertepatan saat kelompok tarekat itu melakukan kegiatannya.

Di tempat kegiatan zikir itu, Pak Mulyadi tak memperlihatkan tanda-tanda mau mempertemukan saya dengan sang habib. Di tengah jamaah tarekat, saya cuma nimbrung tanpa sempat ditengok atau diajak bicara. Tetapi saya mendengar Habib bergumam dalam Bahasa Jawa, jelas bukan zikir. “Wong dudu turunane Sunan kok arep munggah Gunung Jati ya lumpuh sikile (Orang bukan keturunan Sunan mau mendaki Gunung Jati, tentu saja lumpuh kakinya),” katanya, tak jelas ditujukan kepada siapa.

Masih dalam Bahasa Jawa, Habib berkata lagi, “Kudune maca istighfar kaping sepuluh ewu (Seharusnya membaca istighfar sepuluh ribu kali).” Mendengar itu saya hanya merasa agak aneh saja.

Sampai akhir acara, secara khusus Habib itu tidak berkata apa-apa kepada saya. Praktis saya ke Magelang sekadar menyaksikan amalan kelompok tarekat. Kejadian itu pun saya lupakan karena tak merasa perlu mengingat-ingatnya. Anehnya, dua atau tiga hari setelah kejadian itu, saya tiba-tiba saja teringat kata-kata habib tadi. Istighfar? Ah, ini kan artinya saya sudah banyak berbuat dosa, saya harus mohon ampun kepada Allah. Saya merasa, kata-kata “lumpuh kakinya” pun tertuju kepada saya yang sudah jatuh pailit ini.

Segera saja, dengan dana yang ada saya memutuskan bersama keluarga pergi ke Tanah Suci menunaikan ibadah umrah. Di depan Multazam saya membaca istighfar sepuluh ribu kali, sejak pukul sebelas malam sampai menjelang azan subuh. Setiap satu putaran tasbih, yang terdiri atas 99 biji (plus satu pentolannya) saya isi batu ke dalam gelas kosong.

Selama saya berzikir, semalaman saya mendapatkan gangguan, seolah-olah tasbih saya ditarik-tarik anak kecil. Setiap saya buka mata saya memperhatikan tangan saya, si bocah penggoda itu menghilang. Akhirnya tuntas juga istighfar itu sampai 10.000 kali. Niatan saya ketika itu benar-benar mohon ampunan Allah atas segala dosa yang sudah saya lakukan.

Setelah menuntaskan rukun-rukun umrah, saat kembali ke Tanah Air, semua kekhawatiran, kebingungan gara-gara pailit, hilang sudah. Pikiran saya menjadi enteng meksipun kenyataannya saya masih berutang miliaran. Tanpa ragu atau berberat hati saya jual rumah saya yang terhitung bagus di daerah elite di Jalan Imam Bonjol, Surabaya. Kebetulan saat itu Gubernur Jawa Timur belum punya rumah dinas, maka rumah itu saya jual ke Pemda Surabaya. Sampai saat ini masih menjadi rumah dinas gubernur. Saya bersama keluarga kembali ke rumah saya yang kecil di Jalan Kertajaya.

Kerugian serius itu gara-gara salah perhitungan dagang. Kini saya merasa hal itu sebagai pelajaran berharga, buat hidup dan perjalanan bisnis saya. Setelah kerugian itu, kami hidup sederhana. Untuk menyambung hidup, istri saya berjualan telur asin. Telur bikinannya dibawa anak saya yang masih SD. Saat dia ke sekolah, dia membawa telur dagangan.

Sejak itu saya perlahan-lahan bangkit lagi dengan berdagang, cara lama saya. Kali ini menjadi penyalur komoditas. Alhamdulillah, saya akhirnya bisa mendirikan perusahaan kembali dan merekrut sejumlah tenaga kerja.* (Kang Asti, www.perspektifislam.com, sumber: Iqbal Setyarso, “H. Ishadi, Menebus Dosa di Multazam”, Lembar Khas Panji No. 35 Tahun III, 15 Desember 1999)


UMROH HEMAT bersama Badiatul Muchlisin Asti

Info lengkap klik gambar.

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *