Bacaan Ruku’ dan Sujud yang Benar

Pak Asti, mohon penjelasan tentang bacaan ruku’ dan sujud yang benar? Ada yang mengatakan bacaannya Subhana rabbiyal ‘adzimi wabihamdihi dan Subhana robbiyal a’la wabihamdihi, tapi ada yang bilang ke saya, yang benar adalah tanpa ada tambahan wabihamdih. Jadi hanya Subhana rabbiyal ‘adzimi untuk bacaan ruku’ dan Subhana robbiyal a’la untuk bacaan sujud? Mohon penjelasannya mana yang benar. Terima kasih.

Sesungguhnya, ketika seorang  muslim mempelajari dan memahami tata cara shalat yang diajarkan oleh Rasulullah Saw, maka ia akan mendapati tata cara shalat yang gerakan dan bacaannya variatif, sehingga memungkinkan antar seorang muslim tata caranya shalatnya berbeda-beda, tapi sama-sama sah, karena semuanya berlandaskan pada dalil yang shahih, yakni contoh  dan ketentuan dari Rasulullah Saw. Rasulullah Saw bersabdaa, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.(HR.Bukhari)

Sebagai contoh bacaan doa iftitah dalam shalat, tercatat Rasulullah Saw setidaknya mengajarkan hingga 10 variasi bacaan doa iftitah, baik dalam shalat fardhu maupun shalat nafilah (sunah). Di antaranya doa iftitah yang teksnya sebagai berikut:

“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air embun.”

Teks doa iftitah di atas diajarkan oleh Rasulullah Saw sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa ia bercerita: Rasulullah saw biasa berdiam sejenak antara takbir dan (waktu) membaca (al-Fatihah). Aku pun bertanya, “Atas kecintaanku yang mendalam kepada engkau, wahai Rasulullah, (aku ingin bertanya) perihal diamnya engkau antara takbir dan membaca al-Fatihah, doa apakah yang gerangan engkau ucapkan?” Beliau pun menjawab dengan mengucapkan doa di atas. (HR. Bukhari dan Muslim).

Teks doa iftitah lainnya adalah sebagai berikut:

“Allah Maha Besar sebesar-besarnya. Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya. Mahasuci Allah setiap pagi dan petang.”

Teks bacaan iftitah di atas berasal dari salah seorang sahabat Nabi Saw. Disebutkan dalam sebuah hadits dari Ibnu Umar bahwa ia bercerita, “Ketika kami sedang melaksanakan shalat bersama Rasulullah Saw, seketika itu seseorang dari jamaah mengucapkan (doa iftitah di atas). Rasulullah Saw pun bertanya setelah selesai mengerjakan shalat jamaah, ‘Siapakah yang mengucapkan kalimat yang begini dan begitu? (maksudnya bacaan di atas)?’.

Orang itu pun menjawab, “Aku, wahai Rasulullah.” Rasulullah pun bersabda, “Aku kagum akan ucapan tersebut. Untuk ucapan itu, pintu-pintu langit telah dibuka”.

Aku pun tidak pernah meninggalkan bacaan tersebut semenjak aku mendengar Rasulullah Saw mensabdakan hal itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan banyak lagi contoh variasi bacaan iftitah yang bisa kita pilih dan baca saat shalat di luar dari dua bacaan iftitah yang saya contohkan di atas. Silahkan bisa dibaca di beberapa buku tentang itu yang beredar.

Begitu pun dalam bacaan ruku’ dan sujud, juga banyak variasinya berdasarkan dalil-dalil yang shahih.  Lalu, mana bacaan ruku’ dan sujud yang benar, apakah yang pakai wabihamdihi atau yang tidak pakai? In syaa Allah, keduanya benar dan berlandaskan hadits yang shahih.

Yang bacaan ruku’ dan sujudnya tidak pakai wabihamdihi berdasarkan hadits riwayat Ahmad, dari Hudzaifah bin Yaman ra yang pernah melakukan shalat bersama Nabi Saw, ia berkata, adalah Rasulullah Saw di dalam ruku’ membaca “Subhana rabbiyal ‘adzimi” (Mahasuci Rabbku yang Maha Agung), sedangkan di dalam sujud membaca, “Subhana rabbiyal a’la” (Mahasuci Rabbku yang Maha Tinggi). (HR. Ahmad).

Adapun bacaan ruku’ “Subhana rabbiyal ‘adzimi wabihamdihi”  dan sujud “Subhana Rabbiyal A’la wabihamdihi” adalah berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud.

Jadi, keduanya benar, bahkan ada variasi bacaan lainnya di luar kedua bacaan tersebut, yang diajarkan oleh Rasulullah Saw di saat ruku’ dan sujud yang bisa diperiksa di buku-buku yang membahas persoalan tersebut.

Demikian penjelasan dari saya, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.*

Kang Asti, pengelola www.perspektifislam.com

Comments

comments

About Kang Asti

Penulis lepas di sejumlah koran dan penulis produktif buku-buku Islami. Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan dan mengasuh sejumlah majelis taklim. Pertanyaan, undangan, kerjasama, dll via SMS/WA: 081347014686

View all posts by Kang Asti →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *